Kuliah #Yoghurt (bagian 2-end)

hari itu sangat cerah, sehingga obrolan kami terasa seru, asik, dan tidak kawatir akan terjadi hujan. dalam obrolan ini, saya banyak bertanya sehingga saya peroleh beberapa cerita mengenai produk yoghurt bermerk “manger” ini. oya, ketika itu saya sempet penasaran dengan kata “manger” ini. ketika saya tanya, masnya menjawab bahwa kata ini berasal dari bahasa Perancis, nah, sayangnya saya lupa artinya apa. hehe..

Yoghurt. seperti yang kita tahu, ia adalah produk hasil fermentasi dari susu sapi, yang telah diperlakukan sedemikian rupa sehingga bisa ada yoghurt yang asem, ada juga yang uuaasem (baca: sangat asem), tergantung selera. keasamannya ini tergantung seberapa lama ia diinkubasi, semakin lama akan semakin banyak asam yang dihasilkan. itu sekilas pengantar. lalu, bagaimana cara membuatnya?

kurang lebih seperti ini yang diceritakan oleh masnya :

1. susu sapi pilihan dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 80 C (kalo ga salah) selama selang waktu tertentu untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme yang (barangkali) hidup di sana. di kuliah (formal) Teknologi Pemrosesan Pangan yang saya ikuti, teknik ini disebut Pasteurisasi.

2. setelah susu dipasteurisasi, susu didinginkan terlebih dahulu sampai mencapai suhu kamar. hal ini bertujuan agar nutrisi yang ada di dalam susu tidak rusak oleh panas. di TPP juga, teknik ini dinamakan cooling. jadi dalam proses pasteurisasi ada heating, holding, dan cooling. secara lengkap, pasteurisasi dilakukan dengan memanaskan sistem dari suhu awal hingga mencapai 80C, setelah itu membiarkannya selama selang waktu tertentu, dan terakhir mendinginkan sistem hingga mencapai kondisi normal.

3. setelah suhunya turun, barulah ditambahkan gula. gula bukan sembarang gula, tapi gula rafinasi. kata masnya, gula rafinasi itu lebih murni dari gula yang kita makan sehari-hari. harga? yaa, rada mahal lah. –> mungkin ini juga yang membuat yoghurt ini harganya jadi rada mahal.. tapi emang enak sih.. hehe. gula harus diaduk sedemikian rupa sehingga benar-benar merata dalam satu tangki.

4. memasukkan bakteri fermentasi. maaf, saya lupa nama bakterinya apa. intinya, bakteri dimasukkan dalam suatu takaran tertentu yang masnya sendiri tidak tahu, karena yang melakukan tahap ini adalah bosnya. bakteri ini juga harus diaduk agar tersebar merata.

5. susu+gula+bakteri siap diinkubasi dalam lemari dengan kondisi tekanan, temperatur, dan cahaya sekian-sekian-sekian, sudah diatur. lama inkubasi ini ialah 7 jam. keasaman yoghurt yang didapat akan seperti yang saya rasakan hari Ahad kemarin.

6. terakhir, yoghurt dalam tanki besar dibagi2 ke dalam tangki2 kecil untuk diberi rasa. ada rasa strawberry, melon, jeruk, leci, mocca, blueberry dan durian. kata dosen saya, pemberian rasa seperti ini penting dalam membuat produk pangan, untuk memenuhi selera konsumen. selain itu, juga perlu didukung dengan pemberian pewarna makanan, agar lebih menarik. tentunya yang sesuai dengan rasanya. misal untuk rasa strawberry, warna yoghurtnya dibuat rada pink, melon -> rada kehijauan, mocca -> rada kecoklatan, dll.

7. ternyata ada lagi, packaging. ini wajib! siapa coba mau beli yoghurt yang ga ada wadahnya. packagingnya menurut saya pribadi tergolong sederhana. yaitu dengan cup plastik berdiameter sekitar 8 cm dan tinggi sekitar 6 cm yang banyak di pasaran. tutupnya juga menggunakan tutup cup standar yang bergambar buah2an, lalu diberi sticker kertas bertuliskan rasa yoghurtnya. tidak ada merk, komposisi, label halal, netto, apalagi nomer ijin dari Dinkes atau BPOM. ya, se-der-ha-na. 🙂

tapiii, efeknya maksimal. yoghurt ini ternyata sudah memiliki banyak pelanggan tetap di seluruh penjuru Bandung Raya, bahkan ada juga yang di luar kota. pasarnya sudah lumayan luas. dampaknya, penjualan rata2 bisa mencapai 500-800 cup perharinya. termasuk yang dikirim2 ke luar kota seperti surabaya, jakarta, dll. sungguh pencapaian yang luar biasa untuk industri sederhana seperti ini.

dan berikut fakta2 lain dari industri penghasil yoghurt ini :

  • pasokan susu sapi diperoleh dari peternakan sapi yang ada di lembang. harga per liternya sekitar Rp4000,00, dan industri ini mampu memproduksi 400 liter susu untuk dijadikan yoghurt tiap harinya. subhanallaah, mantap.
  • pemilik usaha ini (si bos dan istrinya) ternyata adalah alumni ITB yang anaknya sekarang juga kuliah di ITB. *keluarga ITB yaa.. pekerjaan utamanya adalah sebagai eksportir kayu ke luar negeri. jadi yang ini, (mungkin) sekunder.
  • omzetnya, saya yakin lumayan. masnya aja senyum2 pas saya tanya. hehe.. canda, mas.. 😛

oke, begitulah isi kuliah yang saya dapatkan dari mas2 penjual yoghurt. sekarang, apakah kawan2 tertarik memiliki industri seperti ini? tidak usah malu menjawab, saya juga pengin. hehe.. aamiin..

semoga bermanfaat. (hbb)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s