Banyuwangi, Sebuah Contoh Perubahan

Kawan2 mengenal kota yang satu ini? Belum? Oke, Banyuwangi ialah sebuah kabupaten di ujung timur pulau Jawa, yang diapit oleh tiga kabupaten dan satu selat. Bagian timur berbatasan langsung dengan selat Bali, bagian barat adalah Kabupaten Jember dan Bondowoso, bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, dan bagian utaranya berbatasan langsung dengan Kabupaten Situbondo. Di dalamnya terdapat kota kecil bernama Banyuwangi, kota tempat saya dilahirkan, dan tempat keluarga saya tinggal.

Peta Kabupaten Banyuwangi

Letak Banyuwangi secara geografis berada di ujung pulau. Meski begitu, Banyuwangi memiliki potensi yang tak kalah besarnya dibandingkan kabupaten lain di sekitarnya. Mulai dari potensi pariwisata, industri, hingga potensi ekonomi. Tidak heran, kenapa Kang Anas, bupati Banyuwangi sekarang, berani membuat julukan untuk Banyuwangi ini The Sunrise of Java, atau “Matahari Terbit nya Pulau Jawa”. #wiiih

Wait! Ternyata tidak semudah membalik telapak kaki menjuluki Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java, semacam visi yang terlalu berat. Memang benar. Pada awalnya, saya sendiri merasa aneh, karena yang saya ketahui Banyuwangi belum cukup bagus dari segi infrastruktur waktu itu. Masih banyak pembangunan infrastruktur yang belum rampung, infrastruktur lama yang belum diperbaiki, dan rencana pembangunan beberapa infrastruktur baru yang belum terealisasikan. Namun seiring berjalannya waktu, Banyuwangi mulai berbenah.

we have already changed

Perubahan pertama yang saya lihat ialah TMP. Taman Makam Pahlawan (TMP) Wisma Raga Satria, dulunya terlihat gelap, kumuh, dan kurang teratur karena banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di sana. Sekarang terlihat begitu berbeda. Tidak ada lagi pedagang liar seperti tahun-tahun sebelumnya, warung remang2, atau apapun yang mengganggu pangdangan mata. Kini di bagian depan, sudah ada tamannya, yang sudah terang benderang, dan sudah diperbarui rumput, dan jalannya. Dihiasi pula dengan beberapa pohon palem yang tertata sangat rapi dan satu gazibu agak besar. Masyarakat tidak merasa angker lagi. Mereka “sangat” bisa bermain2 di taman ini bahkan saat malam hari. Apalagi tersedia hotspot di gazibunya. #wah mantap. Perubahan yang cukup dahsyat.

TMP sekarang, dilihat dari depan

Masjid Agung Baiturrahman, alhamdulillaah,akhirya selesai juga renovasinya sejak beberapa tahun yang lalu (saya lupa). Kini Masjid ini terlihat lebih hidup dan menjadi pusat kegiatan keislaman terbesar di sini. Selain berperan sebagai penyelenggara agenda2 keislaman rutin dan insidental, masjid ini juga berperan dalam pelayanan informasi untuk seluruh ummat muslim di Banyuwangi khususnya, melalui media elektronik seperti radio Baiturrahman FM dan TV Baiturrahman. Desain masjidnya yang megah, dan suasana interior yang teduh dan nyaman, membuat para jama’ah semakin senang untuk datang dan beribadah di masjid ini. Sungguh menyenangkan.

Masjid Agung Baiturrahman yang telah direnovasi

Tak mau kalah dengan MA Baiturrahman yang telah selesai renovasinya. Taman Sritanjung pun dibenahi. Maklum, taman pusat kota ini terletak persis di depan MA Baiturrahman. Bagaimana mungkin suatu alun-alun (pusat kota) dengan masjid bagus, tapi tamannya sangat jelek dan mengerikan? Pertanyaan ini langsung terjawab oleh action yang diterapkan oleh pemerintah Banyuwangi. Taman Sritanjung benar-benar seperti kamar tidur anak2 yang penuh dengan mainan berserakan, kemudian dibereskan dan dirapikan mainannya sehingga berada di tempat yang semestinya. Dulu, taman ini begitu tertutup dengan pagarnya, terlihat tidak rapi karena selain tamannya tidak terawat, banyak pula pedagang kaki lima yang mangkal di pinggir jalan. Yang terjadi ialah jalan menjadi tempat parkir pembeli dan ini sangat mengganggu. Belum lagi lampu taman banyak yang mati sehingga taman menjadi gelap dan menjadi tempat favorit orang pacaran (bergelap-gelapan). And now… really different! 

Yang dulunya tertutup, sekarang terbuka, siapapun bisa masuk dari arah manapun.

Taman Sritanjung di depan Masjid Agung Baiturrahman

Yang dulunya pohon2 tidak terawat sehingga menjadikan tamannya terlihat gelap, sekarang diganti dengan tanaman2 hias yang indah. Pandangan menjadi terang. Jalan2 yang dulu tidak jelas karena sudah hampir tertutup tanah, sekarang terlihat jelas, bersih dan luas sehingga sangat nyaman bagi pejalan kaki, baik yang muda maupun yang tua. #mantap lah.

Jalan setapak di Taman Sritanjung

Yang paling mengesankan, para pedagang tidak berserakan seperti mainan lagi. Kini ada spot khusus di tepi selatan taman yang khusus digunakan sebagai tempat berjualan makanan. Semacam food court. Sehingga … terlihat awsome! 😉

Food Court di Taman Sritanjung

Rapi bukan? #haha. Menurut saya ini sudah sangat bagus untuk sebuah perubahan. Alhamdulillaah.

Dan masih banyak lagi perubahan-perubahan yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun ini, yang tidak bisa saya ceritakan semuanya. Di antaranya ialah bandara Blimbing Sari yang sudah mulai beroperasi, perbaikan beberapa ruas jalan, dan pembangunan ruko dan perumahan yang menandakan perekonomian Banyuwangi sudah mulai berkembang.

Itulah kawan. Sedikit kisah tentang Banyuwangi. Sebuah kota kecil yang mampu berubah secara mandiri. Kota kecil yang membuat saya semakin merasa memiliki dan mencintai potensi negeri ini. Ini ceritaku, mana ceritamu? (hbb)

“I love this city, and I love it’s change”

8 thoughts on “Banyuwangi, Sebuah Contoh Perubahan

  1. Ok banget mas, jadi pingin rekreasi ke Banyuwangi nih… hehehe.. salam kenal mas, ane Rudy dari Surabaya, trims infonya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s