Jalan2 : Wisata Cirebon (1)

tanggal 15 Juli adalah rencana kami (anak2 PD ITB) untuk kemping sampe tanggal 16 Juli. rencana awal ada 2 opsi tempat : Curug Malela, atau Curug Muarajaya. sebelumnya beberapa dari kami survei ke Curug Malela. karena cukup jauh dan jalannya sangat jelek, maka diputuskanlah secara musyawarah, akhirnya kemping dilaksanakan di Curug Muarajaya, Majalengka. padahal ini lebih jauh, cuman jalannya bersahabat. 🙂

kami lewat Cirebon. kota yang katanya masih lumayan kental dengan budaya kekeratonan. karena kami sampai Cirebon pas siang hari, maka kami sholat dhuhur di masjid depan keraton (lupa namanya apa). konon masjid ini dulu digunakan sebagai tempat orang berdiam diri (i’tikaf-red) untuk beribadah pada Allah swt.

Masjid ini tergolong unik. Antara tiang-tiang penyangga atap dan lantai jaraknya cukup pendek. Tidak mencapai 2 meter bahkan. Di bagian dalamnya terdapat banyak sekali kayu2 yang bertautan satu sama lain, saling mengokohkan bangunan masjid ini. yang membuat saya kagum adalah, pastinya masjid ini sudah berusia sangat tua, sejak jaman Sunan Gunung Jati, tapi kayunya masih utuh tanpa keropos sedikitpun *subhanallaah. Pintu utamanya sangat kecil, tingginya kurang lebih hanya 1.5 meter, dengan lebar tidak sampai satu meter. Orang-orang harus mengatur badannya sedemikian rupa untuk bisa masuk ke bagian dalam. tidak seperti masjid modern yang ada sekarang, masjid ini terlihat kecil dan sederhana jika dilihat dari luar. terpancar siratan bahwa penampilan luar itu tidak terlalu penting, megah tidak megah itu bukan masalah, asalkan fungsinya sebagai masjid terpenuhi. *toh, tetep rame meskipun ga megah2 amat.

Teknologi Djaman Doeloe vs Teknologi Modern

ayo kita sebutkan teknologi jaman sekarang apa aja. Android, mobil ramah lingkungan, robot manusia, apa lagi? dan kawan2 lah. di jaman yang teknologi informasi dan komunikasi sudah mantep dan perkembangan peradaban yang cepat.

dulu? listrik belum ada, mekanika belum dipelajari, apalagi termodinamika. teori tentang statika belum sampe ke Indonesia, begitu pula mekanika fluida. jurusan Teknik Mesin dan Desain Produk belum lahir di Indonesia. tapi manusia2 Cirebon bisa menghasilkan kereta yang membuat saya sangat takjub (ini tidak lebai). ya, kereta Singa Barong. selain tiap2 sudut kereta ini memiliki nilai filosofi, tiap lekuknya juga menyimpan teknologi tersembunyi yang sekarang sudah dipakai di seluruh dunia.

teknologi dari Desain Produk, Teknik Lingkungan, dan Teknik Industri, khususnya ilmu ergonomi, dan Teknik Mesin

teknologi ini diterapkan pada bentuk poros roda kereta yang tidak biasa *sayang saya tidak ambil fotonya. ujung poros roda agak miring x derajat dari sumbu horizontal. membuat roda yang terpasang miring sebesar x derajat pula dari sumbu vertikal. rada aneh awalnya. tapi ini ada tujuannya. bukan cuma unik dan menarik, tapi model poros semacam ini bisa mencegah tubuh kereta kotor karena cipratan air dari roda. ketika jalan becek, air yang terciprat dari roda kereta akan otomatis terciprat menjauhi tubuh kereta, dan orang di dalam keretapun aman. “ergonomis”. ketika kereta tidak gampang kotor, maka akan jarang dicuci, hemat air. “cinta lingkungan”. dan desainnya yang unik itu lho. “ilmu desain produk”. meskipun poros miring, tapi jalannya kereta tetap stabil, ini ilmu statika. “anak mesin punya”. hhe. ^^

selain keempat cabang ilmu di atas, ada juga ilmu lain yang sudah diaplikasikan di jaman dahulu kala. penasaran? tunggu cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s