KKNT2012 : Dijewer Polisi

[30 Juni 2012] di Cipanas, Garut

Ternyata produk kami terlalu bagus untuk dijual di pasar biasa. Kemasan, OKE. Dimensi tiap produk, hmm.. masih kurang. Harga, cocok untuk toko oleh-oleh di sekitar tempat pariwisata. *kalo dijual di pasar, pasti ga laku karena kemahalan*

Saya, Sebo dan Aceng yang berangkat untuk survei dan memasarkan produk industri. Pas sampai di daerah Cikajang, kami lupa kalo motor Aa Furqon ga ada plat nomornya. Sedangkan kami mau lanjut ke Garut, daerah Tarogong, untuk berburu toko oleh-oleh. Karena anak Industri (Sebo dan Aceng) juga ada agenda belanja, yasudah, jadinya Aceng dan Aa Furqon yang belanja, saya dan Sebo lanjut ke Garut pake motor Sebo. Lumayan susah karena kami membawa dua kardus yang isinya produk yang mau kami pasarkan, harus dijaga keaslian dan keteraturan bentuknya.

Kami menuju Tarogong. Teman saya, anak Garut, di Tarogong ada banyak toko oleh-oleh. Tarogong terletak di dekat Cipanas. *tau Cipanas?* Cipanas adalah salah satu kawasan wisata di Garut. Liburan gini, jangan tanya ramenya, macet cet cet dari jalan masuk ke Cipanas sampe pemandian apa gitu *lupa*, dengan kecepatan gerak mobil kira2 3 meter per menit. Untung kami pake motor. Oiya lupa, dalam pencarian toko oleh-oleh ini kami ditemani Monita, anak Industri kloter 1 yang rumahnya di Garut. Sebo yang minta tolong untuk mengantar kami ke Tarogong.

Kami masih berkutat dengan kemacetan, sambil menyelinap mencari jalan. Pas kami melewati salah satu angkot yang terlihat melanggar lalu lintas, karena mendahului depannya sehingga menutup kedua arah jalan, kami melihat ada satu polisi yang menghampiri angkot itu dan… *kalian pasti tahu* ditilang. Tapi tilang bukan sembarang tilang, polisi ini menilang dengan menjewer telinga pak sopir angkot. Yang kami lihat, sopir angkotnya ketawa-ketiwi gitu pas dijewer. *hehe.. geli kali yah* Kayaknya yang ada di pikirannya pak Polisi,

“udah gede kok masih ngelanggar aja sih pak, kaya anak kecil aja, sini bapak jewerr aja deh… emmh… nakal…”

*haha* Lucu lah kalo ngeliat langsung, sayangnya ga sempat saya foto. Kalo ada fotonya pasti lebih terlihat nyata.

Setelah kami lelah menyelinap di tengah2 kemacetan, akhirnya nyampe juga di ujung macetnya. Alhamdulillaah… jalan lancar lagi. Tak lama, akhirnya kami menemukan toko oleh-oleh yang cukup besar. Kamipun masuk dan tanya-tanya mbaknya. Langsung taruh barang? Ternyata belum bisa, kami harus mengobrol dulu sama ibu pemilik toko oleh-oleh ini. Karena ibunya juga sedang keluar, jadi kami langsung ke spot selanjutnya saja. Kami diberi kartu nama dan nomor ibu pemilik toko.

Dari survei di toko ini, ada beberapa pelajaran yang kami dapat :

–          Dimensi produk dalam satu kemasan harus sama semua

–          Ada ijin dari Departemen Kesehatan RI

–          Kemasan menarik dan berlabel

–          Harga harus bisa bersaing dengan produk serupa di toko yang sama

–          Harga ranginang kami terlalu mahal

–          Kremes, boleh deh, bersaing

–          Kerupuk lele, jangan dulu deh

–          Wajit, sepertinya lebih laku yang kiloan, tapi bisa lah

Maksimal jam 3 kami sudah harus balik ke Cihurip. Untung survey selesai jam setengah 3an dan mampir dulu ke rumah Monita sampe sekitar jam 3. Jam 3 kami pamit. Ternyata prediksi kami benar. Di perjalanan pulang, kabut mulai turun, dan cukup menghalangi pandangan. Jarak pandang mungkin hanya sekitar 100 meter *mengerikan juga karena tidak ada lampu jalan*. Sebo terus menerobos kabut-kabut ini, hingga sampai di warung Sawung Asri dan kami berhenti. Di sinilah akhirnya kami menitipkan produk2 SARI CIHURIP, hasil olahan warga desa Cihurip, desa Binaan KKN Tematik ITB *cieeh*. Ada kremes, ranginang, dan wajit. Di situ kami beristirahat sejenak sekalian sholat maghrib.

Semakin malam. Kami pulang jam 6 lebih sedikit. Akhirnya sampai juga di gerbang kecamatan Cihurip. Di sinilah petualangan yang sebenarnya *haha*. Melewati hutan tak berlampu, selain lampu motor. Jalannya begitu menggoda, menuntut kami untuk selalu waspada. Belum lagi ancaman binatang buas dan hantu-hantu yang berkaliaran *ah, yang ini ngaco*. Grudak… Grudak… ngggrenggg… ya gitulah suara motor Sebo pas di hutan menuju desa Cihurip. Mengerikan tapi asik di jalannya. Alhamdulillaah, akhirnya kami melihat rumah pak Ohi (tempat tinggal Sebo) sekitar hampir jam 7 malam. Perjalanan yang sangat super. Setelah isya’, saya pulang ke rumah dan istirahat. 🙂

See you at the next story | #kknt

2 thoughts on “KKNT2012 : Dijewer Polisi

    1. tahun depan tang, pas KP.. ehehe
      hutan yang sudah dijamah tang, tempat penduduk mencari kayu bakar utk memasak sehari2..
      mantap lah.. haha 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s