Falling in Love at The First Sight

[25 Juni 2012] di desa Cihurip, Garut

Ini adalah hari pertama kami dalam rangkaian #kknt (KKN Tematik) ITB 2012. Kami berangkat sebagai kloter kedua, menggantikan kloter pertama yang sudah berjuang sejak dua pekan yang lalu. Kami dating, mereka pulang, dengan bus yang sama. Pada #kknt ini kebetulan kami mendapat proyek koperasi, atau gampangnya, marketing. Dalam kelompok ini, saya bersama ke 13 teman saya yang lain, Ridwan MA 09, Wilsen GL 10, Kholis EL 10, Satrio TG 10, Luhur BI 10, Aso TI 10, Shinta FT 10, Indah FT 10, Hylda TI 10, Vernanda TI 10, Aulia TI 10, dan Adhya TI 10.

Oke , this is our first day.

Perjalanan

Perjalanan ke lokasi #kknt ternyata cukup jauh, sekitar 6 jam dari ITB. Kami ke sana dengan elf *padahal mereknya Mitsubishi Fuso*, bersama rombongan kelompok kerja yang lain, yaitu Industri 2, PLTMH 2, dan Infrastruktur 1. Kami berangkat jam 8 pagi, istirahat sekitar 1 jam di tempat peristirahatan di balik gunung *ga tau nama tempatnya apa*, dan sampai di lokasi sekiar jam 3 sore.

Perjalanannya cukup menantang. Bagi teman2 yang gampang mabok, ati-ati *hehe*. Untuk sampai ke desa Cihurip, kami harus melewati gunung, lembah, hutan, menyeberang sungai *lewat jembatan, maksudnya*, meliuk-liuk di jalan yang jelek, naik-turun lewan kampung orang, dan lain-lain yang seru. Sebelum memasuki gerbang kecamatan Cihurip sih jalannya lumayan, pas sudah masuk, masya Allah, jalannya seperti kulit durian saja, aspal sudah berlubang semua, tikungan, jangan tanya. Jalan yang paling serem nih, udah nikung, jalan jelek, setelah tikungan langsung tanjakan tajam *serem ga tuh?*

Tapi saya sangat menikmati. Alhamdulillah, teman2 juga tidak ada yang mabok, karena sudah menelan antimo sebelum berangkat. Dan setalah sampai di sini, di desa Cihurip, kami disambut dengan senyuman hangat warga sekitar, adik2 yang lucu2, dan teman2 kami kloter pertama yang wajahnya sudah berubah dari awal mereka berangkat *wakaka, si Donbot dan si Walay tambah item*.

Dibatasi oleh jarak, fasilitas, dan kondisi ekonomi

Desa cihurip jauh dari manapun, kecuali dari desa2 sebelahnya. Ke pasar Cikajang saja, yang terdekat, butuh minimal 1 jam. Warga di sini jarang sekali ke pasar. Kalaupun ke pasar, itu hanya untuk keperluan2 yang insidental, misalnya : nyambut gawe (nikahan, sunatan, dll), bulan puasa pas mau lebaran, dan jual barang hasil pertanian. Untuk ke pasar Cikajang, minimal harus merogoh gocek 35 ribu rupiah.

Listrik di sini sangat terbatas. Beberapa rumah mendapat listrik PLN, dan beberapa lagi dari PLTMH yang dibangun mahasiswa KKNT tahun lalu. Untuk men-charge HP dan laptop, kami harus ke bu Ntin, anaknya pak Akum yang tinggal di sebelah rumah pak Akum.

Masyarakat di sini memandang uang 1 juta itu sangat banyak (kata bapaknya). Terbayang bagaimana perputaran uang mereka yang tidak sebanyak kami, sepertinya, dalam perbulan.

“Pak Akum, abdi permios bade kulem di dieu…”

Saya dan dua teman saya, Ridwan dan Wilsen, mendapat kesempatan tinggal di salah satu rumah milik Pak Akum dalam dua pekan ke depan. Pak Akum merupakan salah satu “orang tua” di daerah Cihurip. Saat pertama kali memasuki rumahnya, saya sudah merasakan nuansa kesederhanaan yang luar biasa.

Pak akum hanya tinggal berdua, bersama istrinya. Pak akum memiliki 5 orang anak. Tiga orang anaknya perempuan, dan dua yang lain laki-laki. Anak pak akum yang perempuan kesemuanya sudah menikah dan tinggal di deket rumah pak akum. Sedangkan anaknya yang laki-laki, kesemuanya bekerja di luar kota.

Keluarga Pak akum hidup sangaaaaat sederhana. Di ruang utama hanya ada 1 lampu fluorescent sebagai penerangan, satu lemari besar berisi beberapa gelas dan bejana, shofa untuk menerima tamu, meja, dan sebuah karpet berwarna hijau untuk alas sholat kami. Ruang ini hanya seluas 5×5 m2, sudah termasuk kamar seluas 2×2 m2 yang kami tempati. Di dapur *terlihat dari ruang utama*, hanya terdapat lampu bohlam kecil sebagai penerangannya dan sangat terlihat gelap saat malam hari dibandingkan dengan ruang utama.

Saya dan teman2 beruntung bisa tinggal di rumah ini. Rumah yang kami tinggali ini tergolong yang paling sederhana dibandingkan rumah yang ditinggali teman kami yang lain. Kami jadi ikut merasakan, betapa sederhananya masyarakat yang hidup di sini, yang tinggal di balik gunung dan sangat jauh dari peradaban.

Rumah yang unik

Tidak seperti kebanyakan rumah yang pernah saya lihat. Rumah2 di desa Cihurip sangat unik. Ada kolam ikan di depan rumah, bagi yang punya. Di pojok kolam biasanya ada tempat mandi/WC, airnya mengalir unlimited dari gunung sana, tidak pernah berhenti, kecuali mengecil debitnya pas musim kemarau (kata salah satu warga). Modelnya WCnya sederhana, kotak (kubus) dengan dinding gedhek (baca : anyaman bambu) dengan atap dari seng, dan setengah terbuka dindingnya (kadang pas mandi kepala kelihatan dari luar). Bagi yang tidak biasa mandi di tempat seperti ini, sensasinya… hmm…

Kembali ke kolam ikan. Kolam ikan pastinya untuk melihara ikan. Tapi ikan-ikan di kola mini bukan untuk dijual, melainkan untuk dimakan sendiri. Kebanyakan adalah ikan mas, dan mujahir. Kata warga juga, memanen ikannya tidak menentu, tergantung kebutuhan mereka, butuh lauk ikan buat makan atau ga.

Kebanyakan rumah di Cihurip tidak memakai pondasi. Pembuatan pondasi tergolong memakan banyak biaya, hanya beberapa saja yang memakai pondasi dan rumahnya pake semen, mayoritas rumah berlantai kayu dan berdinding anyaman bambu. Tapi lumayan keren, sekali lagi, model rumah tanpa pondasi (baca : rumah panggung) ini tidak sia-sia, justru di bagian bawahnya bisa untuk tempat memelihara ayam. Terdengar ayam2 sedang bermain keresek pas saya dan Wilsen ngobrol di ruang utama. *hehe*

Memanjakan

Asli, yang ini ga usah ditanya. Tiap pagi dan sore kami disuguhi suasana yang tidak ada di kota. Matahari yang terbit dan tenggelam menimbulkan silhouette pegunungan yang mewah, rentetan santri-santri yang berangkat ngaji di sore hari membuat pemandangan semakin asri, alunan ayat-ayat Allah yang dibacakan di pesantren sangat memanjakan telinga, dan gelapnya malam dengan listrik yang terbatas membuat diri ini merasa sangat bersyukur bisa hidup dalam kecukupan. Alhamdulillaah…

Airnya mengalir sangat deras, bersih, dan jernih. Tidak perlu khawatir airnya terlalu dingin di pagi hari. Karena di pagi hari airnya relative hangat dibandingkan udara luar, dan di siang hari sebaliknya, malah lebih dingin. Jadinya PAS… *sipp*

Pisang = Cawuk + Tepung

Pisang bukan lagi buah yang berwarna kuning, panjang, dan melengkung di sini. Yang seperti itu namanya cawuk. Jadi, cawuk yang dikasi tepung, terus digoreng, namanya pisang (bukan pisang goreng). *Haha* Lucu lah, baru tahu kalo pisang itu bukan pisang.

See yu at the next story | #kknt

2 thoughts on “Falling in Love at The First Sight

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s