Waspadai Kejahatan di Kota Besar

Mungkin ini salah satu alasan, mengapa tiap2 dari kita setidaknya harus pernah dibekali ilmu #beladiri. Sekilas memang tidak terlalu penting karena kehidupan kita di kampus dan kosan yang aman dan nyaman (adem ayem). Baru terasa gunanya ketika “praktik” langsung di kehidupan nyata. Contohnya seperti cerita di bawah ini. Langsung dari temen saya, Kak Arriman yang menyaksikan kejadiannya di tempat. Check it Out!

Saya baru sampai di rumah setelah ada kejadian yang mengerikan di jalan. Yang mengalami bukan saya, tapi seorang teteh yang menjadi korban ‘kecelakaan’ di jalan. Kisah ini nyata, baru terjadi beberapa jam yang lalu. Saya bukan mau pamer akan apa yang saya lakukan, tapi saya justru ingin berbagi cerita kepada teman-teman sekalian, terutama yang perempuan. Laki-laki juga sebenernya juga berlaku, sih. Anyway… here it goes…

***

Saya baru mau pulang ke rumah dari arah Kopo, daerah selatan Bandung. Saat itu aku masih di daerah Kopo. Awalnya semua biasa saja, saya melewati McD Kopo, terus aja sampai dekat pintu gerbang tol. Sebenarnya jalannya bisa lurus, tapi jalannya memang ditutup dan dialihkan ke dekat pintu gerbang tol Kopo supaya bisa U-turn di situ dan kembali ke jalan utama. Tiba-tiba setelah U-turn di gerbang tol Kopo saya kembali ke jalan utama, tak jauh dari situ saya lihat beberapa meter di depan ada beberapa orang bermotor di tepi jalan dan terlihat ada keributan. Kira-kira ada sekitar 3-4 orang mengerubungi 1 orang. FYI waktunya kira-kira pukul 22.15. Awalnya saya kira itu hanya keributan biasa karena tabrakan motor. Saya juga tidak bisa melihat jelas karena gelap dan agak terhalang mobil yang di depan saya. Setelah saya makin dekat, mobil di depan saya menjauh, orang-orang bermotor itu terlihat sempat berkelahi, kemudian langsung kabur dan meninggalkan satu orang berlutut di depan motornya. Saya semakin dekat dan ternyata itu seorang teteh-teteh yang menangis dan teriak minta tolong. Akhirnya saya memutuskan untuk menepi, disusul oleh beberapa orang bermotor (bukan yang tadi).

Ketika saya keluar dari mobil dan menghampirinya, saya benar-benar kaget setengah mati… ternyata dia habis (nyaris) dirampok. Tangannya terbacok-bacok, bahkan pergelangan tangan yang kiri nyaris putus!! Saya dan orang-orang yang menepi di situ sempat shock, sementara dia teriak-teriak meminta tolong untuk menghubungi orang yang dia kenal. Akhirnya saya bilang “Immanuel! Immanuel! Saya bisa bawa dia ke Immanuel!” Kemudian ada tukang becak yang memberikan kain untuk sementara membalut tangan kirinya dan satu pengendara motor yang menghubungi orang terdekat dari si teteh tersebut. Setelah teteh itu dibantu masuk ke mobil yang saya kendarai, saya langsung melaju kea rah RS Immanuel. Hanya tempat itu yang ada di benak saya, karena saya pernah lewat RS itu beberapa kali…

Akhirnya saya tiba juga di IGD RS Immanuel. Sementara si teteh itu dibawa untuk treatment, saya menjelaskan kepada satpam di sana tentang kejadiannya dan mendaftarkan si teteh itu juga. Setelah menunggu beberapa lama, datanglah calon suami si teteh itu beserta kakaknya. Saya memutuskan untuk menunggu sampai ada keluarganya yang datang. Sekitar tengah malam, datanglah ayah dan kakak dari si teteh itu. Tentunya saya juga menjelaskan ke semua orang itu kronologis kejadiannya. Oya, si teteh itu sempat bilang juga bahwa dia merasa sudah diikuti preman-preman itu dari beberapa menit sebelumnya. Setelah itu barulah saya pamit kepada semuanya, termasuk si teteh itu.

Saya sebenarnya kesal pada diri sendiri karena tidak bisa melihat jelas kejadian tersebut dan tidak melihat plat nomor motor orang-orang biadab itu. Namun saya juga bingung dan sama sekali tidak terpikir bahwa kejadiannya ternyata separah itu. Saya hanya bisa mengantarkan korban ke RS terdekat dan menunggu hingga keluarganya tiba.

***

Maaf ya, saya bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi inilah kejadiannya. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri dan sejak pulang dari RS Immanuel, yang ada di benak saya hanyalah “Pertama, shalat Isya. Kedua, langsung share ini ke teman-teman, ASAP, karena ini hubungannya dengan safety

Buat yang perempuan… kalau bisa pulang lebih cepat, pulanglah lebih cepat. Iya saya mengerti bahwa kegiatan di kampus memang banyak. Mungkin ada acara himpunan, menginap demi TA, dsb. Kalau sampai harus pulang malam, jangan sungkan-sungkan untuk meminta dijemput oleh keluarganya, sahabatnya… atau diantarkan oleh teman laki-laki yang ada di dekat situ.

Buat yang laki-laki… JAGA teman-teman perempuan kalian, baik pacar atau bukan. Ikhlaskan diri kalian buat mengantarkan mereka. Saat tiba di rumah/kost mereka, tunggulah sampai mereka benar-benar masuk ke dalamBe a gentleman… Memang betul, mungkin akan memakan waktu, biaya bensin, dan tenaga fisik. Tapi kalau teman-teman ikhlas, insya Allah kebaikan teman-teman akan dibalas dengan kebaikan juga, selama niatnya memang baik.

Terakhir… banyak-banyak baca doa, baik-baik sama orang lain. Yang Muslim, ingat untuk selalu shalat tepat waktu… karena kita tidak tahu kejadian apa yang akan menimpa kita nanti. Mohon perlindungan pada Tuhan, supaya selamat di perjalanan.

Yang mau sharerepost, dsb silakan. Khususnya buat para perempuan dan yang tinggal di daerah Kopo. Saya sangat, sangat menyarankan teman-teman untuk melakukan ini. Terima kasih…

===

Itulah cerita beliau, dan saran yang bagus untuk semuanya. Hendaknya kita tidak gampang menunda2 sholat, atau kebaikan lainnya, karena kita tidak tahu kapan tiba “waktu” kita. 🙂 Semoga kita dan keluarga kita senantiasa dilindungi oleh Allah swt di dalam kehidupan sehari2. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s