Review : Heat Transfer dan Kaderisasi

Pernah SMA kan? berarti pernah belajar fisika? kalo pernah berarti tau, dong tentang teori-teori perpindahan kalor. *ehehe #basa-basi

Judul ini saya pilih karena itu kesan pertama yang saya dapat setelah mengikuti TFT (Training for Trainers) Sabtu (12 Mei) pagi di sekitar sekretariat Himatek (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia ITB). Ya, kami, angkatan 2010 disuguhi materi menarik mengenai pengantar kaderisasi oleh Kak Auzan, alumni Himatek yang bisa saya bilang masih “sangat cinta dan peduli” terhadap himpunan *ini subyektif dari saya sendiri. Maklum beliau adalah kahim pada jamannya.

Penyampaian beliau yang cukup padat dan tidak bertele-tele, menjadikan materi ini cukup enak dicerna. bahasanya pun mudah dipahami oleh orang-orang awam semacam saya. *wkwk

Yang paling menarik adalah ketika beliau menngaitkan materi ini dengan masalah perpindahan kalor. What?? Apa coba, hubungannya kaderisasi dan perpindahan kalor?

Berawal dari rumus sederhana Q = m.Cp.dT , ternyata banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sana. Beliau mengatakan, Q bisa diasumsikan sebagai fungsi kaderisasi. Fungsi kaderisasi berbanding lurus dengan m, Cp, dan delta T atau selisih temperatur.

Bagaimana rumus ini bekerja? Oke, rumus umumnya :

Q = m.Cp.dT

Faktor pertama dan yang paling penting dari proses perpindahan kalor adalah delta T, atau dalam teori sebenarnya harus ada selisih temperatur antar benda. yang kita tahu, panas berpindah dari benda bertemperatur tinggi ke benda bertemperatur rendah, *benar tidak? ternyata fenomena ini analog dengan kaderisasi. Kaderisasi (baca: penyampaian nilai) itu akan lebih efektif jika pengkadernya punya kapasitas lebih dibandingkan yang dikader. Kapasitas? boleh jadi wawasan atau pengalaman, atau teladan. Artinya apa? Kapasitas itu secara tidak langsung menentukan keshahihan nilai-nilai yang disampaikannya. Apalah fungsi kaderisasi, jika pengkader tidak melakukan apa yang dikatakannya. Sama saja jadinya seperti kalor, tidak ada beda temperatur, tidak akan ada perpindahan.

Faktor kedua yaitu m, atau massa. Kalau di rumus maksudnya massa benda, nah yang ini massa orang. Perpindahan kalor akan semakin besar jika massanya besar, karena ia sebanding. sama juga dengan kaderisasi. Kaderisasi tidak akan berjalan efektif kalau tidak ada massa yang bergerak secara terpadu didalamnya.

Lagi-lagi keefektifan yang harus diutamakan. Faktor terakhir yang juga sangat penting adalah Cp. Cp adalah kalor jenis benda, namun dalam kasus ini ialah metode. Tidak bisa dipungkiri lagi, kaderisasi butuh metode, taktik, dan strategi. Mau dibawa ke mana arah kaderisasi, mau jadi apa kader-kadernya, harus dapet apa saat kaderisasi, ada dalam metode. Intinya, kader dan pengkader harus bisa terkader dua-duanya.

Akhir kata, jangan terperangkap dengan istilah kaderisasi. Kaderisasi itu bukan hanya saat ospek jurusan, ospek unit, atau lainnya yang insidental. Tapi kaderisasi itu terjadi setiap hari dan setiap saat di sekitar kita. Sejauh mana kita mencari nilai-nilai kaderisasi itu, ya sejauh itu pula nilai-nilai kaderisasi yang bisa ktia dapatkan. Yang statis? Ya konstan. Hari ini dan kemarin mungkin sama saja, tidak ada nilai plus yang diperoleh tiap harinya. *meskipun saya masih seperti ini.

Saya harap proses kaderisasi Himatek atau PPAB tahun ini berjalan dengan lancar dan lurus sesuai petunjuk Allah swt. Ya Allah, mudahkan urusan kami ini, karena sesungguhnya segala urusan akan menjadi mudah di tangan-Mu.

“Allaahumma yassir lanaa umuuronaa wa laa tu’assir ‘alainaa, innaka muyassirun kulla ‘asiiriin.”

Semoga bermanfaat. (hbb)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s