Archive for March, 2012

Kisah Seorang Gadis Kecil

Malam Ahad, disaat banyak muda-mudi menikmati indahnya malam di taman yang ada tulisan D. A. G. O. dan sekitarnya, saya melihat dua gadis kecil sedang mondar mandir dengan keranjang kecil berisi beberapa bungkus kerupuk, menggantung di leher salah satu gadis yang terlihat lebih tua.

Pertanyaannya, mengapa saya malem Ahad ada di situ? (*ga penting) Nah, saat itu saya bersama kawan saya Amiril Pratomo, sedang menunggu kawan kami, Rizan, untuk ikut nebeng ke lapangan futsal (*nasib kalo ga punya motor sendiri). Karena Rizan mengantarkan kawan kami yang lain dulu ke Tubagus, jadi saya dan Amiril memilih untuk menunggu di lampu merah perempatan Dago.

kembali ke cerita awal. tanpa pikir panjang, saya menghampiri gadis kecil itu. dengan nada sok lembut (*padahal ga bisa) saya mulai bertanya.

kira-kira obrolannya seperti ini.

hbb (saya) : “Dik, ini kerupuknya dijual? harganya berapa?”

gk (gadis kecil) : “Ya Kak, 2000 sebungkus”

amiril langsung merogoh2 sakunya, dan dia membeli satu bungkus kerupuk. percakapanpun berlanjut.

hbb : “Adik asalnya dari mana?”

gk : “Dari Ciparay kak”

hbb : (ciparay? sok tahu) “Wah…jauh sekali, ke sini sama siapa? kelas berapa? itu adiknya? kelas berapa adiknya?” (*panjang banget nih)

gk : “Saya sama adik, yang cewek kecil tadi, kadang sama temen juga, saya kelas 4 SD Kak, adik saya masih kelas 2”

hbb : (kelas 2? ga tidur semaleman? hwaaaa… 😦 ) “jualan mulai jam berapa? pulang jam berapa?”

gk : (dengan wajah polos) “mulainya jam 10 pagi, terus pulang sampe rumah jam 5 pagi, sekolah, terus jualan lagi”

hbb : (gaya kaget) “hah? semaleman? lha, terus tidur di mana?”

gk : “ga tidur kak, kadang tidur pas jualan”

hbb : (dalam hati) wah, super! saya aja tidur semaleman kadang merasa kurang. astaghfirullaah.

anak sekecil ini, tidur hanya 1-2 jam dalam sepekan. bayangkan, hari-harinya hanya untuk sekolah dan jualan. hari ahad pagi libur sekolah, dia baru sempat tidur. itupun hanya 1-2 jam. subhanallaah.

hbb : “Ayah dan Ibu di rumah?”

gk : (dengan wajah polos) “iya. Ayah sedang sakit, dan ibu di rumah”

am : “Sehari dapat untung berapa dik?”

gk : “biasanya 30rb, biasanya 40rb”

hbb : “Wah, lumayan ya, itu dipakai apa aja? ditabung, atau gimana?”

gk : “mmm.. kan 30 ribu.. dikasihkan ke ibu 20 rb, ditabung 5 rb, dan 5rb untuk angkot”

am : “pernah dimintai uang sama preman gak?”

gk : “pernah. sekali. waktu itu dapet 30 ribu. terus diminta 20 ribu. terus aku kasih aja 20rb”

hbb : …*terdiam (semoga Allah selalu melindungimu nak)

dan akhirnya kami mulai bertanya tentang masa depan. :D/ (*berapi-api ini)

am : “adik cita-citanya ingin jadi apa nanti?”

gk : “apa aja boleh.. 🙂 (sambil tersenyum)” 🙂

hbb : “eh, nggak boleh bilang gitu.. harus punya cita-cita loh, emang mau jualan kaya gini terus? hayo..”

gk  : (agak sewot) “mmm… gag mau..”

am : “adik ingin jadi pengusaha?”

gk : “Enggak kaak…”

am : “nah, yang penting miliki cita-cita yang tinggi… bercita-cita gratis kan… sekarang yang penting rajin belajar dulu. kalo pinter bisa jadi orang yang sukses ntar”

hbb : “bla…bla…bla… (*dan nasehat-nasehat yang lain).. yaudah pokoknya harus rajin belajar, okeh? biar ga rugi udah jualan capek-capek kan”

pas, udah kehabisan pertanyaan dan kata-kata, Rizan datang.

hbb & am : “yaudah dik, kakaknya pamit dulu ya, yang rajin belajarnya biar jadi orang sukses”

gadis itupun cuma manggut-manggut dengan senyum kecil yang kini terpancar lebih cerah (*lebai). (*eh beneran) adiknya yang ga tau apa-apa, diam saja.

semoga hari-harimu menyenangkan, dan Allah selalu melindungi dan meluruskan jalanmu untuk jadi orang sukses. 🙂

Subhaanallaah.. semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian singkat ini.

  1. Syukur. bersyukur tidak hanya pas dapet kenikmatan. kalo itu, mah, harus. mulai dari yang kecil dan sederhana. sudahkah kita bersyukur dengan nikmat “berkedip” pada hari ini?
  2. Gigih. meskipun ditimpa masalah bertubi-tubi, gadis ini pantang menyerah. sudah 3 tahun dia lewati dengan berjualan. rela hanya tidur 1-2 jam sepekan hanya untuk mengobati ayahnya, membeli buku dan tas untuk sekolah. kita? kadang malas kuliah. astaghfirullaah.
  3. Sabar. emang ga gampang, tapi bisa dilatih. dan satu lagi : kesabaran itu tidak akan ada batasnya. kalo kita mikir sabar itu ada batasnya, berarti kita membatasi karunia Allah kepada hambaNya. bukankah Allah mencintai orang-orang yang sabar?
  4. Cita-cita. intinya kita harus punya cita-cita, visi ke depan, mau ngapain, mau jadi apa. hidup itu tidak bisa diikuti seperti aliran air saja. tapi anggaplah hidup itu seperti gunung. cita-cita kita di puncak. kita harus mendaki tiap-tiap jalan agar dapat sampai ke puncak.
  5. dan masih banyak lagi hikmah lain yang mungkin teman-teman temukan sendiri dalam kisah ini.

semoga peristiwa ini dapat menjadi nasehat, khususnya untuk diri saya sendiri. sesungguhnya salah satu ciri orang beriman adalah jika mendapat kenikmatan, bersyukur, dan ketika ditimpa musibah/ujian, bersabar. semoga Allah selalu memberi jalan kita semua untuk menjadi orang-orang yang bersyukur dan bersabar.

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS. An-Naml : 19)

Advertisements

Ragam Gaya, Kaidah Goresan dan Kriteria dalam Kaligrafi Islam

Menurut Ibnu Muqlah, dikutip dari buku ‘Seni Kaligrafi Islam’ karangan Drs. H.D. Sirojuddin AR M.Ag, bahwa bentuk kaligrafi al-Quran barulah dianggap benar jika memenuhi lima kriteria sebagai berikut:

1. Tawfiyah (tepat), yaitu huruf harus mendapatkan usapan goresan sesuai dengan bagiannya secara utuh, baik lengkungan, kejuran, dan bengkokan.

2. Itmam (tuntas), yaitu setiap huruf harus diberikan ukuran yang utuh, baik panjang, pendek, tebal dan tipis.

3. Ikmal (sempurna), yaitu setiap usapan goresan harus sesuai dengan kecantikan bentuk yang wajar, baik gaya tegak, terlentang, memutar dan melengkung.

4. Isyba’ (padat), yaitu setiap usapan goresan harus mendapat sentuhan pas dari mata pena (nib pen) sehingga terbentuk keserasian. Dengan demikian tidak akan terjadi ketimpangan, satu bagian tampak terlalu tipis atau kelewat tebal dari bagian lainnya, kecuali pada wilayah-wilayah sentuhan yang menghendaki demikian.

5. Irsal (lancar),yaitu menggoreskan kalam secara cepat dan tepat, tidak tersandung atau tertahan sehingga menyusahkan, atau mogok di pertengahan goresan sehingga menimbulkan getaran tangan yang pada akhirnya merusak tulisan yang sedang digoreskan.

Lebih lanjut, Ibnu Muqlah merumuskan semua potongan huruf dalam standar huruf alif yang digoreskan dalam bentuk vertikal, dengan ukuran sejumlah khusus titik belah ketupat yang ditemuka mulai dari atas hingga kebawah (‘amadiyyan, vertex to vertex), dan jumlah titik tersebut pusparagam sesuai dengan bentuknya, dari lima sampai tujuh titik. Standar lingkaran memiliki radius atau jarak yang sama dengan alif. Kedua standar alif dan lingkaran terebut digunakan juga sebagai dasar bentuk pengukuran atau geometri. Inilah yang disebut dengan rumusan atau kaligrafi berstandar (al-khat al-mansub) sesuai dengan kaidah yang baku dan menjadi standarisasi pedoman penulisan kaligrafi murni.

Penguasaan atas rumusan ini butuh waktu adaptasi yang cukup lama. Oleh karenanya, ketekunan untuk selalu coba dan mencoba walau kesalahan kerap kali ditemukan merupakan dinamika penguasaan khat. Usaha ini harus terus dilakukan sehingga bisa teradaptasi langsung, baik bayangan bentuk rumus, bentuk huruf, titik, skala garis, dan sebagainya. Coba perhatikan gambar berikut ini.

Adapun tata letak yang baik (husn al-wad’i), menurut Ibnu Muqlah menghendaki perbaikan empat hal, antara lain:

1. Tarsîf (rapat dan teratur), yaitu tepatnya sambungan satu huruf dengan yang lainnya. Coba perhatikan contoh berikut ini.

Contoh gaya khat sulus diatas disusun dengan kerapatan yang teratur, seimbang jarak antar huruf, sesuai dengan ukuran kaidah baku yang dijadikan standarisasi penulisan resmi.

Selanjutnya, coba perhatikan contoh gaya khat kufi diatas. Jarak, bentuk, kerapatan, kelenturan, dan potongan hurufnya disusun sama persis, simetri, dan proporsional.

2. Ta’lîf (tersusun), yaitu menghimpun setiap huruf terpisah (tunggal) dengan lainnya dalam bentuk wajar dan indah. Coba perhatikan contoh diatas, bentuk-bentuk tiap huruf gaya sulus diatas tidak ditulis dengan bentuk yang berbeda, melainkan sama semuanya, baik bentuk, tebal tipis, tinggi dan lebarnya. Keseragaman 3 huruf ha/ jim yang terletak di tengah kanan, bawah, dan kiri menimbulkan kesan keindahan atas karakter bentuk huruf tersebut. Begitu juga 4 huruf lam alif.

3. Tastîr (selaras, beres), yaitu menghubungkan suatu kata dengan yang lainnya sehingga membentuk garisan yang selaras letaknya bagaikan mistar (penggaris). Coba perhatikan contoh sulus diatas, bagaimana 3 huruf lam alif disusun sejajar. Atau lihat berikut ini.

Pada contoh gaya diatas susunan antar huruf bagian bawahnya selaras diatas garis mistar, dan rapi.

4. Tansîl (bagaikan pedang atau lembing kerena indahnya), yaitu meletakkan sapuan-sapuan garis memanjang yang indah pada tiap huruf sambung. Coba lihat contoh berikut ini.

Pada contoh khat diwany diatas, sapuan atau goresan huruf sin pada kalimat syarîfah di baris awal, kepala kaf tunggal, akhir dan tengah di baris tengah, begitu juga di baris bawah tampak memanjang seperti sabetan pedang, indah, tetapi semua bentuknya wajar.

Semua keindahan itu dapat disusun dengan proporsional, bentuk yang wajar, dan indah jika memenuhi kriteria penulisan yang diakui. Berikut ini adalah contoh kaidah khat naskah yang banyak sekali digunakan dalam penulisan manuskrip atau teks-teks resmi, yang diakui oleh khattat Indonesia pada umumnya sebagai langkah awal penguasaan kaidah huruf. Jika rumusan/ kaidah gaya huruf ini telah dikuasai, gaya huruf khat yang lain mudah dikuasai juga.

Pada bagian atas dan bawah, terdapat kesamaan bentuk kepala ‘ain mulai dari atas potongan atas, tengah, dan bawah. Kesamaam bentuk itu disebabkan kemampuan ulung khattat Muhammad Syauqy yang telah menjadi master kaligrafi Turki. Begitu juga bentuk huruf-huruf yang lainnya.

Adapun pada kolom tengah, merupakan kaidah naskhi yang terdiri dari benuk-benuk varian kaf. Sedangkan kolom tengah bagian bawah, merupakan bentuk varian huruf mim. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kriteria penulisan menjadi prinsip utama yang harus dikuasai khattat, kemudian mengaplikasikannya pada tiap gaya khat tersendiri.

Sumber : http://goresanyusuf.blogspot.com/2009/07/ragam-gaya-kaidah-goresan-dan-kriteria.html

Miliki Harga Diri

Apalah artinya punya rumah lapang kalau hati sempit? Apalah artinya penampilan yang indah tapi berhati busuk? Apalah gunanya harta banyak tapi hati selalu merasa miskin? Apalah mamfaatnya segala ada tapi hati selalu nelangsa? Apalah artinya makanan enak dan mahal kalau hati sedang dongkol, memang segala-galanya sangat tergantung kepada hati kita sendiri.

Sayang seribu sayang kita amat sibuk memperindah rumah, tubuh, penampilan, tapi tidak pernah sibuk memperindah qalbu. Kita sibuk memperkaya harta tapi jarang memperkaya hati, maka tidak usah heran kalau hidup ini hanya perpindahan dari derita ke sengsara, dari gelisah ke nestapa, dari resah ke musibah, seperti tiada berujung walaupun sudah mendatangi tempat manapun, memiliki apapun, memakan segala apapun.

Padahal Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini ada segumpal daging yang kalau baik maka akan baiklah sekujur tubuhnya, begitupun kalau buruk maka akan buruklah seluruh sikapnya, itulah yang dinamakan qalbu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah, saudaraku sekalian, adalah mimpi di siang bolong, kalau kita ingin merasakan hidup bahagia yang asli tanpa kita mengetahui bagaimana caranya hidup dengan memelihara qalbu kita ini. Dijamin seratus persen tidak akan pernah merasakan kebahagiaan maupun kemuliaan tanpa kesungguhan menata hati ini.

Salah satu biang busuknya hati kita ini adalah kalau sudah tertipu dalam mencari harta. Seakan hidup hanya akan terhormat dan terjamin dengan banyak uang, sehingga tidak peduli lagi halal haramnya. Bagi yang tidak punya uang pun tidak kalah salahnya, ada sebagian dari kita yang sering cari jalan pintas, ingin untung besar dengan cara enteng, sehingga selain tidak berharta juga tidak punya harga diri.

Justru sering kita saksikan orang jadi hina dan sengsara oleh limpahan harta dan kedudukannya sendiri yang tentu karena diperolehnya dengan cara yang tidak benar.

Sepatutnya kalau harta kita tidak banyak maka perkayalah batin kita sehingga tetap terhormat, tidak menjadi peminta-minta, atau benalu bagi yang lain (lihatlah para koruptor, tukang disuap yang malang, sesungguhnya harta mereka sudah melimpah tapi disiksa dan dihinakan oleh Allah dengan kemiskinan di hatinya sehingga terus saja meminta-minta, menghisap sana sini bahkan kepada rakyat kecil sekalipun dengan menggadaikan harga dirinya, perbuatan ini sungguh hina dan patut kita kasihani).

Orang yang rizkinya masih pas-pasan bisa jadi lebih mulia dan terhormat kalau dapat menjaga harga dirinya. Maka, marilah sekuat tenaga jangan sampai kita menghinakan diri sebagai peminta-minta, apalagi memeras keringat orang dengan cara yang tidak halal, sungguh aib. Percayalah rizki dari Allah sangat melimpah, tidak akan tertukar, lihat kerbau saja yang tidak sekolah rizkinya tetap tercukupi, apalagi diri kita manusia yang diberi akal dan iman, niscaya kita akan bertemu dengan rizki dalam keadaan terhormat.

Marilah saudaraku kita singsingkan lengan lebih serius, kita simbahkan keringat kerja keras kita di jalan yang halal, didampingi dengan ibadah dan do’a kita yang sungguh-sungguh, jangan risaukan cemoohan orang tentang harta atau rumah kita yang sederhana dan tidak berharga yang penting kita bisa mewariskan yang termahal bagi keluarga, anak-anak, dan lingkungan kita yaitu hidup dengan memiliki harga diri, tidak pernah mau hidup menjadi beban dan benalu bagi orang lain.

(Sumber : Jurnal MQ Vol. 1/No.6/Oktober 2001)

Ganesha Membiru

wajah-wajah baru bermunculan di jalan ganesha tanggal 15 maret lalu. jalan ganesha pun membiru karena almamater para siswa dari SMA negeri 1 Glagah Banyuwangi. SMA saya dulu. ya, saya jadi teringat masa lalu, saat semangat-semangat untuk masuk perguruan tinggi itu baru muncul. meskipun saya tidak seperti mereka sekarang. dulu jaman saya study tour nya ke Jogja, dan saya tidak ikut karena ga punya u*ng (disamarkan). *hehe. untung bisa jalan-jalan ke Jakarta akhirnya, seminggu pula, lebih lama dari yang study tour. *wakaka (tertawa puas)

kalian beruntung sekali ‘adik-adikku’, sudah bisa melihat universitas sekelas ITB sejak dini. dulu, kelas dua, ‘kakakmu’ ini (meskipun kalian tidak kenal) tahunya cuman ITS dan STAN. lha ITB? kelas tiga baru tahu. pokoknya kalian beruntung sekali. harusnya sudah bisa terbayang masa depan kalian, nanti mau melanjutkan ke universitas mana.

bertemu dengan guru-guru, membuat saya ingat masa-masa nakal dulu. membuat guru jengkel, tapi pernah juga membuat mereka bangga. *jiah. ada pak Cahyo (guru bahasa Inggris), pak Nur (guru PKn), Pak Yanto (guru sejarah), pak Eko (guru b. Indonesia), pak Jat (guru Kimia, pembimbing OSN Kimia), bu Fitri (guru Biologi), bu Nur (guru Biologi juga), dan bu Yayak (guru Matematika). senang sekali,  alhamdulillaah guru-guru saya sehat-sehat dan berwajah cerah.. 🙂

yang membuat saya malu pada diri saya sendiri adalah, saya pangling dengan keponakan saya sendiri yang di SMA 1 Glagah. pertama saya melihat, “sepertinya pernah kenal, wajahnya..” *dalam hati. tapi pas dia bilang “mas, wes lali tah karo aku? ” sambil senyum2, saya baru ingat.

“Owalah, Riyang ta? tak pikir sopo yang. Pangling aku. Lali aku lek kwe sekolah nang Glagah. Sepurane le. hehe… Piye kabar ibu-bapak? Sehat?”

yah, tak kusangka, kau sudah segede itu nak. tingginya saja, lebih tinggi dari saya. *nah lo. wajahnya sudah terlihat menua daripada dulu masih kecil. makanya saya pangling. maafkan saya, keponakan. 😀

okelah, yang penting kunjungan kalian ke sini ga cuman menuh2in agenda study tour kalian. harus ada pelajaran yang menancap di hati kalian masing-masing, minimal muncul motivasi untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi yang terbaik buat kalian dan terus semangat meraih cita-cita.

buat yang pengin masuk ITB, saya (kita) tunggu deh, tahun 2013 kan kalian masuknya? harus lebih banyak dari lulusan 2012 yang tahun lalu juga kunjungan ke sini. oke? 😀 (hbb)

Salam alumni. \:D/

Koreksi: Man Jadda Wajada

Man Jadda Wajada. pernah denger lah ya, kata mutiara itu sekarang banyak sekali bergaung di sekitar kita. terutama setelah diputarnya film Negeri 5 Menara (*saya belom nonton sih) yang diangkat dari Novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi itu. kata sebagian orang, sih, filmya keren, kata sebagian lagi ga keren. saya jadi bingung ini jadi mau nonton atau ga. *haha 😀

okelah, sebenarnya saya tidak ingin mengoreksi “Man Jadda Wajada” nya, tapi kadang orang salah menuliskan kalimat ini dengan “Man Jadda wa Jadda” atau “Man Jadda wa Jada”. lha, memangnya kenapa? yook, kita telisik bersama. 😀

“Man Jadda Wajada”. arti lengkapnya: “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dia (akan) mendapatkan”.

ada tiga kata dalam kalimat ini. man, jadda, dan wajada. sama sekali berbeda dengan “man jadda wa jadda” yang memiliki empat kata, yaitu man, jadda, wa, jadda. berarti ada dua kata yang sama persis yaitu “jadda”.

bedanya di mana? oke kita kupas satu-satu.

  • man (من) = siapa (?), barangsiapa. contoh: man(i)l-ladzii ‘indahu qolamun? arti gampangnya “siapa yang punya pulpen?”. atau contoh lain: wa man yattaqi-llaaha yaj’al lahu makhrojan. artinya “dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, (Allah) akan menjadikan untuknya jalan keluar”.
  • jadda (جدّ) = bersungguh-sungguh. contoh: roaituhu jadda fit-ta’allumi. artinya “aku melihat dia bersungguh-sungguh dalam belajar”.
  • wajada (وجد) = mendapat. contoh: wajadtu faakihatan katsiirotan. artinya “saya mendapat buah-buahan yang banyak”.
  • wa (و) = dan, demi (dalam sumpah). contoh: wa qul lahumaa qaulan kariiman. artinya “dan katakan kepada keduanya (orangtua) perkataan yang mulia”.

jadi kesimpulannya, kalimat “man jadda wajada” (kalimat 1) dan “man jadda wa jadda” (kalimat 2) itu berbeda. kalimat 1 memiliki arti “barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dia (akan) mendapatkan”. sedangkan kalimat 2 memiliki arti “barangsiapa yang bersungguh-sungguh dan bersungguh-sungguh”. ??? kalimat yang tidak lengkap jadinya. beda jauh bukan? padahal cuman beda satu spasi dan satu huruf. kalau di tulisan arab beda satu spasi dan satu tasydid. hampir tidak terlihat.

jadi yang benar “مَنْ جَدَّ وَجَد”. “man jadda wajada”. “barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dia (akan) mendapatkan”.

yah, semoga tulisan ini tidak hanya sekedar koreksi, tapi mari kita tanamkan dalam diri kita masing-masing. bahwa sesuatu capaian atau cita-cita itu akan sangat sulit teraih bila kita tidak bersungguh-sungguh dalam meraihnya. dari koreksi ini, saya juga menghimbau dan mengajak kawan-kawan untuk sama-sama mempelajari dan memahami bahasa Arab. (*ga afdhol kan, kalo orang islam ga kenal sama bahasa Al-Qur’an, bahasa surga, dan bahasa Nabi Muhammad saw), hehe. harus bangga, dong, menjadikan bahasa arab sebagai bahasa kedua, masa’ kalah sama bahasa inggris. (hbb)

wallaahu a’lam bi-shshowaab.

Berlian yang Terpendam

Saya yakin anak-anak (baca: mahasiswa) ITB itu tidak semuanya S.O. (Study Oriented-masa sih?), banyak manusia-manusia yang ternyata bisa aktif di kehidupan luar kampusnya, tak terkecuali di luar kuliahnya. banyak kok anak-anak yang jadi bussinessman, banyak juga yang menjadi relawan di kegiatan-kegiatan sosial. cuman ga keliatan. tapi itu gak akan jadi halangan anak-anak SMA yang akan masuk ITB (takut jadi S.O. juga), karena ITB punya banyak berlian kalo kita mau menggali.


ITB itu berwarna. ada warna ijo, putih, abu, coklat, *ih, eta mah warna gedung nyak.. maksud saya berwarna orang-orangnya. berasal dari berbagai habitat (baca: daerah), latarbelakang ekonomi, budaya, dan suku, berbeda-beda bahasa tapi bahasa pergaulan tetap satu, bahasa Jawa, *lho?.. canda, maksudnya bahasa Indonesia. ada juga orang-orang luar Indonesia, mereka memakai bahasa mereka sendiri, yang sering saya dengar adalah bahasa India, Inggris, lalu Malaysia. warna-warni itu membuat saya semakin mengerti arti kalimat “bhinneka tunggal ika”. ya, meskipun berbeda-beda dalam banyak hal, kita tetap satu Bangsa Indonesia. yang selalu bercita-cita bisa membangun negeri ini kelak. dimulai dari kampus ini tentunya.

ya.. seperti itulah ITB. kadang ditanyakan sama masyarakat sebelah. “mana nih, mahasiswa ITBnya, biasanya suka ngadain kegiatan di kampung kita?” saking ngangenin kali ya. masyarakat kangen sama senyuman, sentuhan tangan-tangan kreatif mahasiswa ITB untuk berkarya di masyarakat. mungkin kalo saya dengar sendiri, saya akan bilang, “masih dikembangin penelitiannya, pak.. “. ya, baguslah, saya pikir ITB memang harus lebih maju lagi di bidang riset dan penelitian. jangan mau kalah tuh sama negara tetangga. yang kita tonton Upin & Ipinnya.

anak-anak ITB tu potensial lho, untuk diterjunin ke masyarakat luas. saya salut pada teman-teman saya yang sudah mulai memainkan peran-peran politik di berbagai organisasi kemahasiswaan. entah itu himpunan mahasiswa jurusan, unit, maupun KM-ITB pusat. mantap lah, kecil-kecil sudah pandai menyusun strategi, aktif, dan kontributif. belum lagi yang punya cita-cita pengin jadi Direktur Utama PT. DI (Dirgantara Indonesia). teman saya sendiri. sekarang dia aktif di bidang riset tentang Roket di himpunan mahasiswa penerbangan ITB. alhamdulillaah.. tidak pernah saya merasa rugi karena masuk ITB.

hanya sedikit hal yang bisa saya ceritakan malam ini. *ga bisa atau gara-gara udah ngantuk ya?

saya harap, berlian-berlian kampus itu tidak pernah hilang, meluruh karena waktu, namun tetap bertambah, menjadi besar dan muncul ke permukaan tanah. ya, suatu saat kita akan menjadi pioneer negeri ini, manusia-manusia terdepan yang akan membawa perubahan untuk Indonesia. bersinergi dengan manusia-manusia dari PT lain, kita bangun Indonesia kita sendiri. kita bangun semangat penelitiannya, kita bangun mindset kemandiriannya, kita bangun jiwa-jiwa entrepreneurshipnya, dan kita akan melihat empat puluh tahun yang akan datang, anak cucu kita tersenyum bangga melihat hasil karya dari kakek neneknya.

semangat terus para mahasiswa! semangat!

Maqam Kaligrafi dalam Seni Rupa

Pembicaraan tentang seni kaligrafi telah sampai ke tingkat yang sangat bergemuruh. Dimulai dari sejak ayat-ayat Alquran pertama yang berkenaan dengan ‘perintah baca tulis’ sampai masa-masa paling kiwari saat aksara telah beradaptasi dan jadi bagian yang lebih integral dengan ragam garapan seni rupa moderen.

Di zaman pertengahan Islam, seni kaligrafi diajarkan di institusi-institusi pendidikan khusus yang bernama Madrasah Tahsin al-Khutut Al-‘Arabiyah sebagai subyek kurikulum wajib. Para pelajar berbakat yang prospektif dan menonjol memperoleh pelajaran spesial dari para master kaligrafi. Sejak itu, kaligrafi berkembang pesat dan dtuangkan dalam rupa-rupa garapan di aneka media untuk menyalin mushaf Alquran, naskah transaksi dan dokumen, monumen arkeologis, dekorasi interior, iluminasi perabotan rumah, sarana-sarana advertensi, dan lukisan-lukisan di muka media yang lain.

Yang lebih penting di sini, selain telah sejak lama masuk ke dalam lingkup seni rupa, kecenderungan minat dan perkembangan kaligrafi yang pesat bukan semata “pelarian” dari larangan menggambar di periode awal Islam sebagai satu-satunya alasan fiqhiyah, melainkan karena kedudukannya yang dianggap melebihi maqom seni menggambar landscape yang juga sangat populer di dunia Islam. Lebih jauh, kaligrafi diangkat sebagai art of Islamic art (seninya seni Islam) karena fungsinya sebagai bahasa visual dari ayat-ayat suci.

Kaligrafi juga sangat fleksibel dan lebih mampu menerjemahkan pemikiran abstrak (untuk itu kaligrafi disebut pula seni abstrak atau seni tawhid) untuk tujuan-tujuan apresiasi dan ekspresi. Agaknya, kaligrafi yang dirasakan oleh para khattat dan pelukis “mempunyai pelbagai kemungkinan untuk membentuk huruf-huruf sebagai penafsiran garis yang bersambungan”, memberikan daya tarik tersendiri kepada para seniman.

Huruf adalah lambang bunyi. Bila bunyi-bunyi digabungkan, maka makna pun timbul. Sebab itu pula kaligrafi disebut lisan al-yadd (lidahnya tangan), karena dengan tulisan itulah tangan berbicara. Dalam pelbagai metafora, kaligrafi juga dilukiskan sebagai kecantikan rasa, duta akal, penasihat pikiran, senjata pengetahuan, penjinak saudara dalam pertikaian, pembicaraan jarak jauh, penyimpan rahasia dan rupa-rupa masalah kehidupan, ringkasnya”kaligrafi adalah ruh di dalam tubuh” seperti dikatakan sebagian ulama. Pesan yang sama timbul dari sebuah karya seni rupa: ada sesuatu yang digoreskan, unsur garis, dan pesan-pesan.

Sangat jelas, meskipun pada awalnya sederhana, kaligrafi Islam sat ini tidak cukup dianggap hanya sebagai unsur tambal, pelengkap, atau penghias sebuah lukisan semata, melainkan telah benar-benar jadi “jasad dari ruh” seni rupa. Terlebih dengan munculnya beberapa perubahan ekstrim yang kerap hadir di lapangan kaligrafi Arab waktu-waktu terakhir (yang melahirkan kaligrafi kontemporer mengikuti arus perkembangan seni rupa kontemporer dunia).

Cara lain mendekatkan kaligrafi ke unsur (dan jadi bagian dari) seni rupa adalah kenyataan hasil usaha para mpu kaligrafi (yang dimotori Ibnu Muqlah dari Baghdad) untuk menorehkan huruf dengan senantiasa mengikuti prinsip-prinsip desain yang mencakup: kontras, balans, proporsi, ritme (irama) dan kesatuan (unity).

Dalam istilah yang sedikit berbeda, Ibnu Muqlah mengungkapkan prinsip-prinsip desain kaligrafi sebagai berikut: taufiyah (selaras), itmam (tuntas, unity), ikmal (sempurna, perfect), isyba’ (parallel, proporsi), dan irsal (lancar). Prinsip-prinsip ini sebenarnya tidak jauh dari tatacara penulisan yang ideal sebagaimana dikemukakan Rasulullah saw kepada Abdullah ibn Umar:

“Wahai Abdullah, renggangkanlah jarak spasi, susunlah huruf-huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi dalam bentuk-bentunya, dan berilah setiap huruf hak-haknya.”
Ketergantungan pada prinsip geometri dan aturan keseimbangan (yang disebut al-khat al-mansub alias kaligrafi berstandar) pada gaya-gaya khat klasik seperti Naskhi, Sulus, Diwani, Farisi, Kufi, Rayhani, dan Riq’ah, hingga aliran “pembebasan” dari prinsip baku dalam gaya-gaya kontemporer (yaitu kaligrafi kontemporer tradisional, figural, ekspresionis, simbolis, dan abstrak) masih saja berada dalam pagar prinsip seni rupa, karena aturan dan teknik pengerjaannya tidak semata terletak pada teknik penulisan (atau tidak hanya selesai pada huruf), tetapi juga pada pemilihan warna, bahan tulisan, medium, hingga pena atau kuas sebagai instrumen tulisan, bahkan biasanya sampai pemilihan ayat yang harus sesuai dengan pesan-pesan lukisan secara keseluruhan.

Kesempurnaan syarat-syarat tersebut semakin menegaskan hakikat kaligrafi yang harus tampil indah fisik dan batin atau pesan-pesan yang dikandungnya, seperti dinyatakan khattat Yaqut Al-Musta’simi:

“Kaligrafi adalah ilmu ukur spiritual yang lahir via perabot kebendaan.”

Dengan penyebarannya yang meluas di kalangan seniman dan individu, atau melalui media pameran, artefak, dan lembaga-lembaga, seni kaligrafi semakin mantap menempatkan dirinya dalam nuansa seni rupa klasik dan moderen yang terus berkembang di seluruh dunia.

SUMBER : http://sirojuddinar.blogspot.com/2008/11/maqom-kaligrafi-dalam-seni-rupa.html

“Ngilmu”pun Ada Syaratnya

Bukan cuma sholat yang ada syaratnya, -wudhu’. atau masuk jurusan mikrobiologi yang ga boleh buta warna. “ngilmu” juga ada syaratnya.

ngilmu? ilmu kebal bacok? tahan peluru? bukan. di sini hanya saya pake buat istilah, bahasa halusnya yakni “menuntut ilmu”. menuntut ilmu luas maknanya. banyak cabang ilmu yang bisa kita pelajari. tidak terbatas pada ilmu agama saja. ilmu fisika, kimia, proses transfer massa, perpindahan kalor, semua itu juga termasuk ilmu, suatu bukti kebesaran Allah swt.

al-ilmu nuurun, wal-jahlu tzulumaatun.. ”

ilmu itu adalah cahaya, dan kebodohan itu adalah kegelapan.. “

untuk mempelajari ilmu2 itu, ada syarat-syaratnya. sebagaimana yang ada di kitab ta’liimul-muta’allim, bahwa ada 6 komponen yang harus dipenuhi oleh para penuntut ilmu. *jaman sekarang istilahnya siswa, santri, mahasiswa, mentee, bahkan dosen, ilmuwan, juga para penuntut ilmu

1. Dzakiyyun atau cerdas

saya kira semua orang yang bisa buka internet seperti teman2, tergolong cerdas lah ya, *hehe. alhamdulillah, kan. kita dikaruniai akal yang bisa membedakan baik dan buruk, bisa menerima kuliah dengan baik, dan memiliki pergaulan sosial yang baik.

2. Hirsun atau kesungguhan

menuntut ilmu itu tidak bisa main2. simpelnya, kita belajar dari kata pepatah: “rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh”. untuk semua hal. mahasiswa yang rajin, insya Allah bisa expert, tapi yang malas-malasan? yaa.. standar paling.

3. Tsamanun atau biaya

siapa hayo yang kuliah tanpa biaya? anak beasiswa? tidak. belajar tu pasti butuh biaya. oke, bisa jadi kalo dapet beasiswa kuliah ga bayar, tapi pulpennya, buku, tas, dan sepatu misalnya? pasti harus beli sendiri.

4. Shobrun atau sabar

memang kudu sabar ya. banyak sekali cobaan dalam menuntut ilmu, malas, main game, itu mah biasa. Lha kalo tiba2 ada masalah di keluarga tercinta, konflik sosial sama temen? itu baru luar biasa. jadi harus sabar, tetap berada di jalan yang benar.

5. Irhaashu Ustaadzin atau bimbingan guru

di sini guru bukan untuk diambil ilmu (pengetahuan) nya saja. tapi lebih dari itu. kalo cuma ilmu pengetahuan, boleh jadi kita lebih pandai dari guru kita. tapi masalah ilmu kehidupan, pengalamanlah yang berbicara. ya, sang guru pasti telah lebih banyak merasakan asam-garam kehidupan dibandingkan kita, dan kita bisa belajar dari pengalamannya.

6. Thuulu zamaanin atau waktu yang panjang

untuk menguasai suatu ilmu tidak bisa instan, tak seinstan kalo pesen nasi-ayam di KFC terus beberapa menit kemudian jadi. kalo ngilmunya instan, ngilang ilmunya juga instan. bayangin orang yang belajarnya cuman pas mau UTS. oke, pas UTS bisa, dapet bagus, tapi beberapa hari kemudian, wassalam. udah ga tau ilmu yang kemarin ke mana.

semoga bisa menjadi nasehat untuk kita semua khususnya untuk diri saya sendiri, dan kita semua bisa menjadi penuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat ilmunya. aamiin. wallaahu a’lam. (hbb)

Merdeka! | #chenight

Jarang sekali terjadi seperti ini. Semua kebahagiaan tumpah ruah menjadi satu dalam satu momen. dari berbagai lapisan dan usia, dari berbagai latar belakang budaya dan suku, dari yang muda sampai yang tua, founder hingga follower. semua itu terjadi dalam satu malam, ChE night. malam saat semua akademisi berkumpul, dari S1, S2, S3, hingga dosen, untuk merajut benang-benang kekeluargaan dalam satu Teknik Kimia ITB.

Selamanya Perjuangan, Merdeka Selamanya! itu tagline nya. bermakna bahwa perjuangan itu tidak berakhir saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya saja, tapi hingga sekarang, kita masih harus terus berjuang melawan “jajahan” bangsa-bangsa asing dalam hal budaya, ekonomi, dan sumberdaya. Ya, kita masih berperang, kita masih terus mencari solusi, kita masih terus mengembangkan bagaimana menjadikan Indonesia ini benar-benar merdeka, mandiri dan mumpuni dalam segala bidang.

Merdeka!


Semua Datangnya dari Allah

Dari Abu Al-Abbas Abdullah bin Abbas ra., beliau berkata: Suatu saat saya berada di belakang Nabi saw., maka beliau bersabda:

Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu empat perkara: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika suatu umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering . (Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih).

Dalam sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan:

Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di depanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang tidak ditakdirkan atasmu tidak akan menimpamu dan apa yang menimpamu itulah yang ditakdirkan atasmu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).

sumber: Hadits Arba’in An-Nawawiyah

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"