Sepersekian Ruang telah Terisi

Itulah yang saya rasakan sekarang. Kehidupan selama 20 tahun telah berlalu. Itulah yang menjadi pelajaran, pengalaman, serta bekal berharga untuk menapak masa depan. Kini, saya di penghujung awal tahun ke 21.. sangat cepat rasanya, jika tiba2 teringat masa-masa SD saat bermain kelereng bersama Gunung, Canti, Dona, Jihad, Amri, dan kawan-kawan saya yang lain. hehe..

Masa lalu tidak ada gunanya disesali, juga tak harus dilupakan. Masa lalu adalah saat di mana kita melakukan banyak kesalahan, dan saat memperoleh pengalaman yang mungkin tak akan terulang di masa mendatang. Masa lalu itu harus disyukuri, apalagi kita sadar akan perlunya perbaikan. Syukurilah nikmat pemberian Allah yang enak-enak, dan bersabarlah atas ujian yang diberikan Allah, karena itu semua pasti ada hikmahnya. Masa lalu suram? Bukan masalah, manusia memang tempatnya salah, dan Allah adalah sebaik-baik pengampun bagi orang-orang yang mau memohon ampun.

Sekarang, beberapa bagian ruang telah terisi. Sepersekian? Setengah? atau bahkan tiga per empatnya?.. kita tidak tahu berapa jatah usia kita. Lalu solusinya? ya, banyak mengingat mati saja. Mengingat mati merupakan nasihat yang paling baik untuk orang-orang yang mengerti.

Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepadaNya..

Yups. betul sekali. berarti hidup itu hanya tentang ibadah. Bagaimana caranya kita memanfaatkan hidup ini sepenuhnya hanya untuk beribadah kepada Allah swt semata. Ibadah apakah hanya sholat, puasa, zakat? tidak. Ibadah itu luas. Sesuatu apapun yang jika diniatkan kebaikan bisa bernilai ibadah. Mengajak pada kebaikan.. ibadah. Jujur dalam berniaga.. itupun ibadah. Bahkan makan pun bisa bernilai ibadah jika kita meniatkannya agar kuat dalam menuntut ilmu. Menuntut ilmu juga bernilai ibadah.

Kini hanya ada “sepersekian ruang kosong”. Mau diisi apa “ruangan” itu? itulah yang menjadi indikator, apakah kita akan termasuk orang yang beruntung, atau yang merugi. Orang yang beruntung adalah yang mengisi dengan sesuatu yang lebih baik dari isi sebelumnya, sedangkan orang yang celaka adalah yang mengisi dengan sesuatu yang lebih buruk, hanya akan meracuni isi yang lain.

Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh perkara. Apakah kamu harus menantikan kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal, padahal ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat, padahal kiamat adalah sesuatu yang amat berat dan amat menakutkan .” (HR.Turmudzi)

Kesimpulannya, tuntutan untuk terus menerus dalam kebaikan itu akan selalu ada, selama kita masih diberikan kesempatan hidup, jiwa dan raga yang sehat, waktu yang luang, masa muda, dan harta kekayaan oleh Allah swt. Semoga tulisan ini – meskipun sedikit dan agak kacau bahasanya, bisa menjadi bahan evaluasi kita semua. Sesungguhnya ketentuan ajal itu dari Allah swt, kita hanya memohon petunjuk agar selalu diberi kesempatan untuk mengisi ruang hidup ini dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam. 🙂 (hbb)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s