Perayaan Tahun Baru Masehi

Tanggal 31 Desember tahun ‘X’, pukul 23.59 hingga tanggal 1 Januari tahun ‘X+1’, merupakan saat-saat yang paling ditunggu-tunggu.
Apalagi untuk para kawula muda. Muda-mudi semua berkumpul untuk merayakan malam pergantian tahun baru masehi itu. Terompet, kembang api, petasan, khamr, bertebaran dimana-mana. Apakah ada manfaatnya? Sebenarnya dari mana, sih, asalnya perayaan itu? dan bagaimana hukum (bagi seorang muslim) merayakannya?

Asal Mula Perayaan Tahun Baru Masehi
Ini saya ambil dari sebuah artikel di http://www.sabili.com

Perayaan tahun baru merupakan yang tertua di antara hari-hari libur lainnya yang diakui dunia internasional. Penelusuran awal mula perayaan tahun baru membawa kita ke zaman Kerajaan Babilonia Kuno, sekitar 4.000 tahun lalu.

Sekitar tahun 2.000 SM, Tahun Baru Babilonia mulai dirayakan bertepatan dengan dimulainya Bulan Baru (New Moon) yang pertama. Bulan ini ditandai dengan nampaknya bulan sabit yang  pertama setelah peristiwa Vernal Equinox (hari pertama musim semi). Awal musim semi dianggap sebagai waktu yang logis untuk memulai sebuah tahun baru. Pasalnya, saat itu adalah musim kelahiran kembali, musim menanam tanaman baru, dan musim berbunga bagi tumbuhan. Perayaan Tahun Baru Babilonia ini, berlangsung selama sebelas hari. Masing-masing hari memiliki bentuk perayaannya sendiri yang khas. Belakangan, Bangsa Romawi juga meneruskan tradisi Tahun Baru Bangsa Babilonia yang jatuh tiap bulan Maret ini.  Salah satu tradisi penting dari perayaan tahun baru adalah membuat resolusi. Tradisi ini juga bermula dari Bangsa Babilonia Kuno.

Tahukah Anda, apa resolusi tahun baru yang paling populer saat itu? Resolusi paling umum dari orang-orang Babilonia Kuno adalah mengembalikan alat-alat pertanian yang mereka pinjam.

Tapi pada saat bersamaan, perubahan perhitungan kalender yang terjadi terus-menerus sebagai akibat dari berganti-gantinya penguasa menyebabkan perhitungan kalender Babilonia dan Romawi ini tidak sinkron lagi dengan matahari. Untuk menyelesaikan ketidakcocokan kalender ini, pada tahun 153 SM, Senat Romawi menetapkan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun baru. Meski begitu, kekisruhan kalender tetap berlanjut.

Pada masa Julius Caesar, tahun 46 SM menetapkan apa yang kemudian kita kenal sebagai Kalender Julian. Kalender ini tetap menempatkan 1 Januari sebagai awal tahun baru. Agar kalender ini benar-benar sinkron dengan matahari, Julius Caesar perlu mengubah perhitungan tahun sebelumnya menjadi lebih panjang, yakni 445 hari. Padahal normalnya hanya 365 hari. Meski begitu, pada abad-abad pertama Masehi, Bangsa Romawi tetap melanjutkan perayaan tahun barunya pada bulan Maret, bukan 1 Januari.

Gereja, pada saat itu mengutuk perayaan tahun baru bulan Maret maupun 1 Januaari karena dianggap sebagai ritual pagan (penyembahan terhadap berhala). Tapi ketika Kristen kian berkembang, gereja awalnya memiliki pandangan religius sendiri tentang beberapa tradisi pagan yang berlangsung di masyarakat, salah satunya adalah perayaan tahun baru. Bagi beberapa denominasi tertentu di dalam Kristen, perayaan tahun baru dipandang sebagai bagian dari memperingati peristiwa “penyunatan Kristus”.

Pada abad pertengahan Masehi, gereja tetap dengan pendiriannya menolak perayaan tahun baru. Baru pada 400 tahun belakanganlah, tiap 1 Januari dirayakan sebagai hari libur oleh bangsa-bangsa Barat. Jadi, tanggal 1 Januari, yang dirayakan milyaran orang di seluruh dunia, tidak memiliki dasar ilmiah, astronomi, atau agrikultural apapun, tapi hanyalah sebuah tradisi tanpa dasar yang kuat (arbitrer).

Lalu, bagaimana hukum seorang muslim merayakannya?
Jawaban ini saya peroleh dari website www.ustsarwat.com

Ada sekian banyak pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru masehi. Sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya membolehkannya dengan syarat.

1. Pendapat yang Mengharamkan

Mereka yang mengharamkan perayaan malam tahun baru masehi, berhujjah dengan beberapa argumen.

a. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Ibadah Orang Kafir
Bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya.

Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir nabi Isa. Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.

b. Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai Orang Kafir
Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”

c. Perayaan Malam Tahun Baru Penuh Maksiat
Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam. Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.

d. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Bidah
Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal. Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam tahun baru masehi di masjid-masijd dengan melakukan shalat malam berjamaah, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan salafus shalih. Maka hukumnya bid’ah bila khusus untuk even malam tahun baru digelar ibadah ritual tertentu, seperti qiyamullail, doa bersama, istighatsah, renungan malam, tafakkur alam, atau ibadah mahdhah lainnya. Karena tidak ada landasan syar’inya.

2. Pendapat yang Menghalalkan

Pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan mengikuti ritual orang kafir, maka tidak ada larangannya.

Mereka mengambil perbandingan dengan liburnya umat Islam di hari natal. Kenyataannya setiap ada tanggal merah di kalender karena natal, tahun baru, kenaikan Isa, paskah dan sejenisnya, umat Islam pun ikut-ikutan libur kerja dan sekolah. Bahkan bank-bank syariah, sekolah Islam, pesantren, departemen Agama RI dan institusi-institusi keIslaman lainnya juga ikut libur. Apakah liburnya umat Islam karena hari-hari besar kristen itu termasuk ikut merayakan hari besar mereka?

Umumnya kita akan menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya. Kalau kita niatkan untuk merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja. Demikian juga dengan ikutan perayaan malam tahun baru, kalau diniatkan ibadah dan ikut-ikutan tradisi bangsa kafir, maka hukumnya haram. Tapi bila tanpa niat yang demikian, tidak mengapa hukumnya.

Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Namun bila yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya tidak ada. Yang haram adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya. Misalnya, umat Islam memanfaatkan even malam tahun baru untuk melakukan hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti asuhan, membersihkan lingkungan dan sebagainya.

Demikianlah ringkasan singkat tentang perbedaan pandangan dari beragam kalangan tentang hukum umat Islam merayakan malam tahun baru.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Semoga bermanfaat.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s