Bagian Tidak Terberitakan Dari #AksiSuperDamai212

Postingan keren seorang kawan saya yg super!!! 🙂

Relativinity

Terlepas dari ada di mana posisi anda, 2 Desember 2016 mungkin akan jadi hari yang akan diingat bagi semua pihak di Indonesia (kalau tidak dunia, mungkin juga akhirat?)

Jum’at tanggal 2 kemarin, saya mengantarkan Bapak dan Ibuk saya menuju #AksiSuperDamai212 dari Bandung. Sebelumnya, saya pergi ke aksi tersebut hanya dengan niat mengantarkan Bapak Ibuk, serta rasa penasaran ‘ah masa sih ada hatespeech beneran di aksi damai begitu?’ Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 03.30 pagi, mengendarai mobil pribadi. Berhenti sejenak di sebuah rest area untuk shalat shubuh, dan menemukan banyak Jama’ah yang juga hendak menuju ke Monas. Subuhannya penuh, serasa mudik, hhe.

Singkat cerita, tadinya kami mau menuju Monas melalui jalur Sudirman, tetapi berhubung tol dalam kota sangat macet akibat bus dan kendaraan Jama’ah maka kami mengarah ke Salemba. Sepanjang perjalanan, ternyata kami bersamaan dengan iring iringan FPI, FBR, dan ormas lain. Posisinya ada di kiri jalan, serta terlihat wajah…

View original post 852 more words

Advertisements

Hakekat Rizki

Mungkin kita tak tahu dimana rizki kita..
Tapi rizki tahu dimana diri kita..
Dari lautan biru, bumi dan gunung..
Allah memerintahkannya menuju kita..
Allah menjamin rizki kita, sejak 4 bulan 10 hari kita dalam kandungan ibu..

Amatlah keliru bila rizki dimaknai dari hasil bekerja..
Karena bekerja adalah ibadah..sedang rizki itu urusanNya.

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji..
Yang mungkin esok akan ditinggal mati..
Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka..
Tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita..
Allah menaruh sekehendak-Nya..

Diulang bolak balik 7x Shafa dan Marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya..
Ikhtiyar itu perbuatan..
Rizki itu kejutan..

Dan jangan lupa..
Tiap hakekat rizki akan ditanya..
“Darimana dan untuk apa?”
Karena rizki adalah “hak pakai”
Halalnya dihisab..
Haramnya diadzab..

Maka, janganlah kita iri pada rizki orang lain…
Bila kita iri pada rizkinya, kita juga harus iri pada takdir matinya.
Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummat-Nya..
Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya..

Jadi bertawakkal lah, ridho dengan ketentuan Allah, sehingga apapun itu kita akan merasa cukup dan penuh kenikmatan..

Wallahu A’lam..

Share via Whatsapp dari: KH. Khoirul Anwar Fathoni, Ponpes Al-Fath, Cilegon

 

Curhatan Istri: Suami-Pria yang pernah Mandiri

Banyak perbedaan antara seorang lelaki yang masih membujang dan telah beristri. Bedanya dulu dia sendiri, sekarang ada yang menemani. Tentu saja bukan itu maksudnya. Coba lihat pada diri masing-masing para lelaki ketika masih kuliah, hidupnya sederhana atau lebih tepat ala kadarnya. Ya kadang makan agak enak atau tidak makan. Apa saja bisa masuk ke dalam perut. Kehidupan seorang lelaki yang masih kuliah atau bahkan sudah bekerjapun tapi belum menikah membuatnya berjuang sendiri. Perjuangan untuk mencari makan ke warung, bersih-bersih kamar sendiri, mencuci, dan menyetrika baju sendiri (seringnya baju hanya dilipat dan ditaruh di bawah kasur biar rapi sendiri). Ya itulah perjuangan bagi seorang lelaki yang masih sendiri. Tapi kehidupan yang seperti itu seketika berubah drastis jikalau dia sudah menikah. Sepulang kerja, si suami sudah disambut oleh bau masakan yang enak. Dilahapnya dengan senyuman lebar tanpa susah payah pergi ke warung. Saat dia membuka lemari, semua pakaian sudah tersedia rapi dan wangi, padahal baru tadi pagi dilemparnya di keranjang pakaian kotor. Dulunya sebelum beristri, buka lemari, pakaian bersih (tidak ada di lemari), semuanya menumpuk di keranjang pakaian kotor. Walhasil baju dilumuri literan minyak wangi. Betapa bahagianya kan seorang suami?

Tentu saja hal ini juga terjadi pada suami saya. Saya yakin, suami saya dulunya pernah mandiri. Semuanya dikerjakan sendiri, mulai pekerjaan rumah sampai kebutuhan diri. Tapi sekarang setelah beristri, makanpun minta disiapin. Ya itu karena saya selalu menyediakan kebutuhannya setiap hari. Sampai tempat bajunya pun di lemari, dia tidak tahu. Mungkin ini suatu pembelajaran bagi saya bahwa suami sudah sepatutnya diajak terlibat dalam urusan rumah tangga. Kadang suami yang menyapu, mencuci, dan sedikit membantu memasak. Sesungguhnya kewajiban istri bukanlah seperti pekerja rumah tangga yang menyiapkan segalanya. Ini semua terhitung sedekah bagi istri, ketika ia membantu suaminya dalam mengatur urusan rumah tangga. Suami memberi nafkah berupa makanan kepada istri dan anak-anaknya, bukanlah beras dan lauk pauk mentah yang dimaksud. Sejatinya memberi nafkah makan adalah menyiapkan makanan yang siap disantap oleh istri dan anaknya. Artinya, si suami belanja kebutuhan pangan dan memasaknya, kemudian menyediakannya kepada keluarganya. Pun ketika suami memberi nafkah pakaian, itu bukan sekedar membelikan baju di toko, tapi membuatnya siap dipakai oleh istri dalam keadaan bersih dan rapi yang telah dicuci dan disetrika.

Di dalam agama Islam, kewajiban istri ialah memenuhi kebutuhan batin (seksual) suami dan menaati suami (yang sesuai dengan syariat). Namun, suatu kesempurnaan bagi seorang istri tatkala ia dapat menghormati suami, menyenangkan suami, dan membantu dalam urusan rumah tangga. Tak salah jika kita meneladani bagaimana rumah tangga putri Rasulullah ﷺ , yaitu Sayyidah Fathimah ra. Ialah wanita yang akan menjadi pemimpin para wanita kelak di akhirat. Sayyidah Fathimah ra. hidup dengan sederhana dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tangan mulianya sendiri. Beliau niatkan semuanya ibadah karena Allah ﷻ. Oleh karena kesabarannya dan kelelahannya dalam mengurus rumah tangga, beliau menjadi wanita termulia di sisi Allah ﷻ. Dan sudah sepatutnya bagi kita para wanita akhir zaman untuk senantiasa memperbanyak amal ibadah kita, meski hanya di dalam rumah untuk mengurus rumah tangga. Sebagian ulama menyatakan bahwa wanita tidak diwajibkan untuk sholat di masjid, karena kamarnya lebih afdhol. Di dalam rumahnya terdapat ridho Allah ﷻ pada suaminya. Ketika seorang wanita yang menjadi istri sholehah bagi suaminya, maka dekatlah ia dengan surga Allah ﷻ. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Jika seorang wanita telah melaksanakan sholat fardhunya, menjalankan puasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan dia taat kepada suaminya, maka dia akan masuk ke dalam surga” (HR Bazzar dan Ahmad). Oleh karena itu, di dalam rumah bagi wanita ialah tempat yang paling afdhol untuk ia beribadah mencari ridho Allah ﷻ.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thoriq.

Mrs. Habibi Alisyahbana

Menjemput Jodoh

Hidup adalah sebuah pencapaian diri. Sedari dulu saya beranggapan bahwa hidup adalah pencapaian terhadap akademik, karier, dan pernikahan. Artinya, ketika sudah selesai sekolah, lalu kuliah, kerja, dan yang paling dinantikan ialah menikah. Untungnya bukan hanya saya seorang yang mempunyai cita-cita seperti ini, tapi semua orang pun melakukan hal demikian. Tentu saja yang demikian tidaklah salah. Namun, ada tahapan yang terkadang salah langkah. Dan yang pasti yang menjadi bahan tulisan kali ini adalah menikah. Sering kali dalam masa penantian (jodoh), kita disibukkan oleh “siapa dia” dan “cita-cita semu”. Maksud dari siapa dia adalah kita terlalu fokus dengan sosok yang kita idamkan. Dia harus berparas rupawan, berprestasi, berperilaku baik, dan kesempurnaan lainnya. Ini ada kaitannya dengan cita-cita semu yang bermakna bahwa kita mengharapkan jodoh yang sedemikian luar biasa tapi tak diiringi dengan usaha kita untuk menjadi luar biasa. Tapi, jangan salah sangka. Ada saja orang yang terlihat tak ada usaha dan kurang menawan, tetapi mendapat jodoh yang super sekali. Mungkin itu saya, hehe..

Ada cara untuk menjemput jodoh ialah dengan melupakan jodoh itu sendiri. Kita sibukkan diri untuk memperbaiki kualitas diri yang mencakup keimanan, ketaqwaan, dan ilmu. Berbicara keimanan dan ketaqwaan adalah memperindah hubungan kita dengan Allah ﷻ. Alangkah baiknya sebelum kita mengikatkan diri kepada seseorang, maka kita sambungkan tali cinta kepada Allah ﷻ dan Rasulullah  ﷺ terlebih dahulu. Dan yang terpenting kita mengaji (red duduk bersama guru mengkaji kitab) untuk meningkatkan pengetahuan ilmu kita, khususnya mengenai pernikahan. Kelak sebagai imam, kita sudah mampu membimbing keluarga dengan baik sesuai yang disyari’atkan. Kita sudah tahu benar mengenai hak dan kewajiban antara suami-istri dan yang berkaitan dengan rumah tangga lainnya. Bukannya kita sibuk kepoin si doi atau sibuk meracik jurus mendekatinya. Sudahlah serahkan segalanya kepada Allah ﷻ. Sudah tertulis namanya (jodoh), saat kita dulu ditiupkan ruh di dalam kandungan ibu. Jadi jangan khawatir tentang siapa dan kapan. Tugas kita adalah mempersiapkan diri kita sebaik mungkin, karena jodoh adalah cerminan diri. Tentu kita tidak mau, jodoh kita orang yang malas mandi seperti kita saat ini. Tapi, poin nya bukan di sana. Jodoh memang cerminan diri kita, tapi cerminan dalam kadar keimanan dan ketaqwaan kita. Ingin jodoh yang sholehah? Maka sholehkan dulu dirimu.

Menikah

menikah bukan semata tentang rasa,

tapi lebih dari itu adalah suatu kepasrahan seorang hamba atas takdir yang dipilihkan-Nya.

jodoh tak serta merta seperti yang kita lukiskan wajahnya, senyumnya, perilakunya.

dia hadir sesuai dengan takar ukuran dari Allah, dia pas untuk kita, baik kurang dan lebih darinya.

takar ukuran dari Allah, bukan semudah kita melihatnya dengan kacamata manusia,

dia cantik, aku ganteng, dia baik, aku baik, dia buruk, aku buruk,

sungguh tidak demikian..

ukuran Allah ialah bernilai sangat dalam, adil, dan bijaksana karena Ia Maha Tahu.

bisa jadi saat ini diri kita belum baik, namun dengan hadirnya menjadikan diri ini jadi lebih baik.IMG_4575

itulah perhitungan Allah yang Maha Adil bagi hambanya..

satu menit yang berharga

Hhh… Alhamdulillaah, akhirnya nutut juga ngejer kereta, setelah beberapa kali hati ini dibuat deg degan karena delay pesawat, tangga belum dateng pas pesawat udah tiba di bandara, atau apalah.

Ada saja cara Allah menguji kesabaran kita. Sebelumnya memang saya pernah punya pengalaman buruk dengan delay pesawat. Waktu itu saya pilihnya Li*n air (iyalaah, delay), tapi saya sempat husnuzzhon, mungkin cuma sejam delay nya, eh ternyata 3 jam. Jadilah akhirnya jadwal saya kacau. Tiket kereta yg sudah dipesan untuk keberangkatan jam 22:30 dr sidoarjo ke banyuwangi, hangus begitu saja. Yaa, kira2nya pas pesawat baru nyampe bandara, kereta sudah berangkat dr sidoarjo. Alhasil, saya akhirnya naik bis ekonomi. Alhamdulillah sampai di banyuwangi dengan selamat meskipun harus beberapa kali melek-merem tidur berdiri di bis karena gak kebagian tempat duduk.

Kali ini saya pulang ke banyuwangi gak mau pake Li*n lagi. Saya pake Citil*nk. Karena pengaruh cuaca yang sedikit tdk bersahabat, penerbangan delay 1.5 jam lebih dikit. Hmm, memori saya tentang delay yg waktu itu jadi teringat kembali. Tapi kali ini saya mikir, okelah, 1.5 jam, masih OK, tollerable. Pesawat akhirnya berangkat pukul 20:00 (jadwal semula 18:10).  Sampai di juanda pukul 21:15an. Saya masih optimis, ah masih kekejer keretanya. Anggap keluar bandara jam 21:30, naik taksi, nyampe stasiun paling jam 22:00, masih ada waktu setengah jam lagi nunggu kereta yang dari surabaya. Eh gataunya pas pesawat udah tiba, tangga keluar pesawatnya belum siap. Dibuatlah kami menunggu 15 menitan. Beberapa penumpang terlihat kesal dg celotehan2 nya. Iyalaah, udh delay, turunnya lama lagi. Hehe. Saya jadi mikir lagi, tadinya masih optimis, sekarang jadi pesimis. Waduh, nutut gak ya keretanya.??

Beruntung, alhamdulillah bagasi saya keluarnya awal2, jadi saya langsung bisa ngacir ke pintu keluar nyari taksi. Nemu taksi, langsung saya minta berangkat tanpa basa basi, haha.

Beruntung lagi, sopirnya ternyata hapal jalan. Dia nawarin, mau pake jalan normal tp kemungkinan macet apa jalan tikus yg gak macet? Saya bilang, yang penting yg tercepat lah pak. Hehe. Selama di mobil saya mbatin terus, “ya Allaah mudah2an masih nutut ni keretanya, jangan sampe kejadian sebelumnya terulang”.

Saya langsung lari pas keluar taksi pas udah sampe stasiun sidoarjo. “pak kereta udah berangkat belum? Mau cetak tiket nih”. “belum, cetak sendiri mas di situ (sambil nunjukin mesin cetak tiketnya)”. Akhirnya saya cetak. Subhaanallaah, yang maha mengatur segalanya menjadi indah dan mengharukan. Baru selesai nyetak tiket, kereta datang. Langsung saya ambil koper di taksi. Bilang makasih sama sopirnya, dan langsung lari ke dalam peron. Saya baru merasa tenang pas udah di dalam kereta.
***
Huft, ya Allaah, alhamdulilaah, masih kekejer semuanya. Rasanya pengin tak puter lagi video pas perjalanan, pas lari, pas delay, pas rada2 emosi, haha, sayangnya saya gak videoin.
Saya jadi tahu pentingnya satu menit kalau sudah begini. Ya Allah terimakasih sudah memberi hamba pelajaran berharga tentang waktu. Dan hamba mohon ampun bila terbersit di hati ini menyalahkan keadaan yang membuat delay pesawat. Mudah2an kawan2 juga bisa ambil pelajaran dari kisah saya.

sebab – akibat

Kawan2ku yang dirahmati Allah. Ketahuilah sesungguhnya pandangan mengenai ihwal sebab-akibat itu ada tiga macam:
Pertama, bahwa sebab pasti akan menghasilkan akibat. Maka jangan tertipu dengan pandangan seperti ini. Ini adalah pandangan orang2 kafir. Bilamana akibat tidak diperoleh, mereka akan berputus asa. mereka inilah yang menuhankan sebab dan meniadakan tuhan dalam setiap usaha mereka.
Kedua, bahwa sebab akan menghasilkan akibat dikarenakan kekuatan yg Allah berikan pada sebab tersebut untuk menghasilkan akibat. Pun pandangan seperti ini keliru. Ketahuilah bahwa tidak semua api dapat membakar, dan tidak semua pisau dapat memotong. Sebagaimana api tdk bisa membakar Nabi Ibrahim dan pisau tdk bisa memotong leher Nabi Ismail ‘alaihimaassalam.
Ketiga, bahwa akibat ada karena sebab yang mana akibat tersebut terjadi dengan seijin Allah swt. Ketahuilah pandangan inilah yang selamat, maka berpegang teguhlah. Berikhtiarlah untuk mengejar akibat, lalu bertawakkal. Di sinilah makna roja’ dan tawakkal. Syukur bilamana akibat baik yg didapat (sesuai harap) dan sabar bilamana tidak sesuai harap. Ketahuilah, sesungguhnya ketentuan Allah-lah yg terbaik. Karena Dia mahatahu apa yang kita tak tahu.

Wallahu a’lam.

Niat nikah

Niat nikahnya Syaikh Al-Arif Billah Ali bin Abi Bakr As-Sakron Rodliyallohu ‘Anhu (dikutip dari “Kitab Niat”):

niat nikah

Artinya:

“Saya niat menikah dan berpasangan karena cinta pada Allah ‘azza wa Jalla,dan berusaha untuk menghasilkan anak (keturunan) untuk berlangsungnya kehidupan manusia, dan saya niat karena cinta kepada Rosululloh shollallohu alaihi wasallam untuk memperbanyak hal yang membanggakan beliau, karena sabda beliau shollallohu alaihi wasallam:
“Menikahlah kalian, dan memperbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya saya bangga dengan sebab kalian terhadap umat-umat (kelak) di hari kiamat”

Saya niat dengan pernikahan ini dan apa yang keluar dariku baik berupa ucapan dan perbuatan untuk tabaruk dengan doa anak sholih, dan mencari syafaat dengan kematian anak ketika masih kecil jika mati sebelum aku. Dan aku niat dengan pernikahan ini untuk membentengi diri dari syetan, memecah kerinduan, dan memecah bencana buruk, menundukkan pandangan, meminimalisir was-was (bisikan hati), dan saya niat memelihara kemaluan dari hal-hal yang keji.

Saya niat dengan pernikahan ini untuk menenangkan dan mententramkan jiwa dengan duduk bersama, memandang, dan saling bersenda gurau, dan untuk menenangkan dan menguatkan hati dalam beribadah. Saya niat dengan pernikahan ini untuk mengosongkan hati dari mengatur rumah, dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menyiapkan tempat tidur, membersihkan wadah dan mempersiapkan sebab-sebab (bekal-bekal) hidup. 

Saya niat dengan pernikahan ini seperti apa yang telah di niatkan dalam pernikahan hamba-hambaMu yang sholih dan Ulama yang mengamalkan ilmunya.”

Diperoleh dari: Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan – Pustaka Islam Sunni Salafiyah KTB.pdf

Pasrah

undangan mega-habibi announce rev1

Banyak yang bertanya,
bagaimana gerangan kami bisa saling jatuh cinta,
ingin kujawab, “aku pun tak tahu,
kupasrahkan semuanya kepada Sang Pemilik Cinta.”

-Hbb-

target di bulan maulid

Saya sangat bersyukur, malam tahun baru kemarin Allah menggerakkan hati saya untuk datang ke majelis maulid dan dzikir di ponpes alfath, asuhan kyai muda KH. Khoirul Anwar. Beliau adalah salah satu murid Alhabib Zain bin Sumaith, salah satu ulama hijaz yg saya kagumi keistiqomahan dan ilmunya. Dalam acara itu juga hadir KH. Mahdi Akbar dari Kalimantan. Beliau adalah kawan dekat KH. Khoirul anwar sekaligus senior ketika nyantri dulu. Beliau yang akan membawakan tausyiah pada acara ini.
Singkat cerita, acara yg dihadiri oleh ratusan jamaah ini berlangsung sangat khidmat, mulai dari pembacaan Ratib Alhaddad, maulid Simthuddurar, sampai berakhirnya tausyiah.

Salah satu poin tausyiah yang cukup mengena adalah ketika beliau menyampaikan bahwa di bulan Maulid (Rabi’ul-Awwal) pun kita perlu punya target sebagaimana target yang kita pasang di awal bulan Ramadhan. Kalau di bulan Ramadhan kita biasa menargetkan khatam Al-Qur’an sekian kali, atau bersedekah sekian, menghafal sekian, full tarawih, dll, maka di bulan Maulid jangan sampai kalah. Apa tutur beliau? “Maka di bulan Maulid yang mulia ini, hendaknya kita targetkan di bulan ini kita bisa bermimpi bertemu Baginda Nabi saw.” MaasyaaAllaah, bergetar hati saya, begitu lalainya kita selama ini tentang arti kerinduan kepada Nabi kita Muhammad saw. “Maka hendaknya kita perbanyak shalawat kepada beliau, kita hidupkan sunnah-sunnah beliau, kita tumbuhkan di dalam hati anak2 kita tentang kerinduan dan cinta kepada sosok agung Nabi Muhammad saw.” Begitu pentingnya rasa cinta dan rindu sehingga kata beliau, jangan sampai kita melakukan amalan-amalan sunnah tapi sama sekali tidak ada kerinduan untuk bertemu dengan Rasul saw. Pernahkah kita dengar kisah Sayyidina ‘Umar, yg oleh Nabi dikatakan belum sempurna imannya sebelum cintanya kepada Nabi lebih besar daripada keluarga yg dimilikinya bahkan dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Sudahkah tumbuh rasa cinta dan rindu kepada Nabi kita saw.? Sudahkah tercermin akhlak beliau di dalam perilaku kita? Perilaku anak-anak kita? Berapa banyak sunnah yang kita hidupkan?
Allaahu Akbar, sebuah nasihat yang sangat berharga bagi saya pada khususnya dan bagi kawan2 semua. Mudah-mudahan Allah memberi kita taufik agar kita semakin dekat dengan RasulNya sehingga kita mendapatkan syafaatul-‘uzhma nanti di hari Kiamat. Aamiin.
Wallaahu a’lam, semoga bermanfaat.

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"

Musyrifah

Berani, Belajar, dan Bersabar